Sabtu, 17 Juni 2006

Si Bung Mahbub yang Ayah Saya

Malam Ahad pukul 21.00. Tak sabar saya bergegas pergi dari rumah. Maklum, saat itulah hari gaulnya anak muda. Rutinnya, saya pergi kongko dengan mereka yang tergabung di klub motor MMC-Outsider.

Inisial pertama kependekan dari Modified Motorcycle Club Bandung, sedang kata setelahnya, cuma keren-kerenan. Ya… supaya kelihatan gagah kedengarannya. Kebetulan juga, saya menjabat ketua di klub berjumlah ratusan motor ini.

Si Bung Mahbub yang Ayah Saya (Sumber Gambar : Nu Online)
Si Bung Mahbub yang Ayah Saya (Sumber Gambar : Nu Online)

Si Bung Mahbub yang Ayah Saya

Si Bung, begitu saya biasa memanggil papa, sudah maklum sama kebiasaan ini. “Eh. Gue mau ngomong sebentar,” katanya tiba-tiba. “Lu tahu nggak angan-angan gue,” sambungnya dengan dengan nada bertanya. “Kalau meninggal, gue mau dikawal sama motor-motor persis kayak presiden.”  Dari intonasinya jelas si bung  bercanda. Maklum, dia akrab juga dengan teman-teman saya. Malahan, banyak teman yang punya gaya hidup ‘melenceng’, suka  menjadikan papa tempat bertanya atau berkeluh kesah. “Eh, bokap lu itu kan kiai. Tapi nggak fanatik dan mau mendengar kita,” komentar seorang rekan yang terkenal bandel.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Tak disangka, di malam Ahad lainnya angan-angan papa kesampaian. Persis hari meninggalnya, teman-teman memang sedang ngumpul tak jauh dari rumah. Persis perjalanan ke makam, papa dikawal puluhan ‘anak-anak bermotornya’. Dalam mobil jenazah, saya merenung…. “Wah… si bung benar-benar jadi presiden…,” getir saya di Ahad pagi 1 Oktober itu. 

Dengan sepeninggalnya, saya terus menggali kenangan-kenangan lain yang semuanya indah semata. Papa di mata saya adalah orang ‘kaya’ yang sederhana. Tiap sore, dia biasa nabun, istilah orang Betawi kalau iseng membakar sampah di belakang  rumah. Saya perhatikan, itulah hobi tetapnya, mirip petinggi bermain golf. Kalau uang lagi lumayan, dia sering ngajak saya berburu buku bekas di daerah Banceuy atau Palasari Bandung. Waktu kecil, saya suka banget dituntunnya ke toko-toko buku itu. Soalnya, sehabis pulang, ada saja  dua tiga komik silat yang dibelikannya.

Hobi lain yang kurang ‘intelektual’ pergi ke pasar burung daerah Jamika. Ini juga mengasikan. Paling beruntung, saya dibelikan monyet kecil buat dipelihara di rumah. Biasanya, mama cemberut kalau kami bawa khewan-khewan ini. “Waduh, kayak kebun binatang aja rumah sempit ini,” komentarnya. 

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Dengan kehadiran cucu-cucunya, Nadia, Pram dan Raisa, kebiasaan itu sedikit berkurang. Maklum, si bung mulai sakit-sakitan. Berjalan tertatih-tatih dan lebih sering berbaring di kamar tidur karena tekanan darahnya naik. Tapi sempat juga dia membawa binatang kecil seperti burung atau marmut. Malah, dua pasang marmutnya, berkembang biak jadi belasan sampai meninggalnya.

Sebagai jurnalis, ia betul-betul kawin dengan profesinya itu. Saat saya begadang bareng kawan-kawan di kamar atas, terdengar bunyi mesin ketiknya sampai jauh malam. Kalau bunyinya berhenti, ia pasti sedang membuka buku buat memperkaya karyanya itu.

Inspirasi tulisan sering muncul dari rumah. Misal waktu Mira, kakak saya membuat skripsi tentang tata kota. Keluar tulisan tentang kurangnya perencanaan kota-kota di tanah air. “Wah, skripsi kamu kok tentang kota-kota di Amerika. Kenapa sih, nggak yang dekat-dekat aja. Di sini masih amburadul tuh,” ejeknya saat membaca skripsi yang bakal di uji dewan dosen ITB itu.

Atau saat keluar tulisan generasi Jaguar yang isinya bercerita tentang kehidupan anak muda masa kini. Saya yakin itu hasil ‘wawancara’ dengan saya dan teman-teman waktu itu.”Tahu nggak, orang dulu itu hebat! Bung Karno sudah ngomongin dunia di usia 20-an. Malah Tan Malaka sudah jadi elite politik sebelum menginjak umur 20 tahun. Padahal waktu itu masih serba kekurangan. Bacaan minim, segala minim,” kritiknya pada generasi saya. Saya ngeles,” Justru karena serba kurang itulah, mereka hebat. Sekarang kan, semua serba ada,” jawab saya mencoba membela.”Ah. lu bisa aje,” jawabnya lagi.

Ah…. Obrolan hangat itu tak saya rasakan lagi.

Saya juga beruntung, sempat diajak keliling teman-temannya, yang orang penting. Waktu sowan ke pesantren almarhum Kiai As’ad Syamsul Arifin misalnya, saya sempat masuk ke kamarnya. Luar biasa, beliau punya tanah hektaran, pesantrennya juga megah, tapi kamarnya masih beralaskan tanah. “Tuh…. Hebat ya, beliau sama sekali nggak tergiur harta,” nilai papa.

Lucu waktu papa diajak ke pantai persis di belakang pesantrennya. “Bagus nih, gimana kalau Pak Kiai jadiin objek wisata. Nanti banyak turis bule berjemur di sini. Pasti lebih semarak.” Yang diberi ide cuma senyum-senyum. Heh…  supaya Pak Kiai tergiur, papa mengajaknya pergi ke Bali pakai mobil pesantren. Ya…jaraknya juga tak kelewat jauh dari Situbondo. Waktu itu kami sempat singgah di Pantai Sanur dan Kuta yang berhias bule-bule berpakaian minim. Entah bagaimana pikiran Kiai As’ad waktu itu. Yang saya tahu, raut wajahnya tetap cerah. 

Yang agak ngeri kalau Papa lagi kumat jahilnya. Pernah waktu makan di warung sate pinggir jalan, datang seorang pengemis. Entengnya dia ngomong,” Eh, jangan minta duit sama gue. Minta ke Harto, die banyak duitnye,” katanya tanpa takut. Kontan orang sekitar menengok ke meja kami. Padahal tahu sendiri, di zaman itu orang-orang pada ngeri nyentil orang nomor satu ini. Itulah khasnya.

Sekarang suasana rumah sepi. Kakak-kakak termasuk saya sudah tak lagi tinggal di rumah itu. Tinggal Verdi adik saya yang masih kuliah di ITB. Ia juga menyisakan kenangan yang tak kalah manis. Di dinding kamarnya, terpapang coretan kesan para sahabat di hari kematiannya. Jika sedang sendiri, sering saya pergoki dia memandang tulisan beralaskan kain putih itu.

Ya…itulah kenangan abadi kami.

* Ketua Klub Motor MMC-Outsider dan Putra Kelima H Mahbub Djunaidi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Kajian Sunnah, Quote, RMI NU Ceramah Felix Siauw Lengkap

Senin, 05 Juni 2006

Jangan Kafirkan Orang yang Tidak Berpakaian ala Arab

Yogyakarta, Ceramah Felix Siauw Lengkap



Wakil Rektor III Universitas Islam Negeri (UIN) Kalijaga, Yogyakarta, Waryono Abdul Ghafur mengatakan pihaknya melarang pengenaan pakaian ala Arab di lingkungan kampus, untuk mereduksi kebiasaan mengkafirkan karena  perbedaan budaya. 

Jangan Kafirkan Orang yang Tidak Berpakaian ala Arab (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Kafirkan Orang yang Tidak Berpakaian ala Arab (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Kafirkan Orang yang Tidak Berpakaian ala Arab

Hal itu disampaikannya saat pembukaan Dialog Pelibatan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan Birokrasi Kampus dalam Pencegahan Terorisme di kampus UIN Kalijaga, Rabu (11/10).

"Saya melarang keras mahasiswi memakai cadar. Saya sampaikan, kita ini hidup di Indonesia, pakailah pakaian normal Indonesia," kata Waryono. 

Inti dari berpakaian, lanjut Waryono, adalah menutup aurat. Tidak memakai cadar ditegaskannya tidak melanggar aturan agama Islam. 

Ceramah Felix Siauw Lengkap

"Jangan mengkafirkan orang yang tidak berpakain ala Arab," tegasnya. 

Larangan mengenakan cadar di kampus UIN Kalijaga juga diterapkan karena adanya potensi menimbulkan perselisihan antarmahasiswa dan dengan pihak lain di lingkungan kampus. 

"Memakai cadar itu tidak adil. Dia bisa melihat dan mengenali wajah kita, tapi kita tidak bisa melihatnya. Kalau dibiarkan orang-orang akan saling curiga," tandas Waryono.

Terkait kegiatan tersebut, Waryono menegaskan pihaknya sangat mendukung. Mahasiswa sebagai generasi penerus harus diberi pembekalan tentang bahaya terorisme sejak dini, agar dalam dakwahnya dapat menyampaikan pencegahan terorisme. 

Pada kesempatan yang sama Guru Besar UIN Sumatera Utara, Syahrin Harahap menyampaikan pentingnya anggota LDK untuk lebih dahulu memperbaiki dirin, sebelum terlibat dalam dakwah mengajak masyarakat berubah. 

Ceramah Felix Siauw Lengkap

"Saya menyebutnya inner capacity. Perbaiki, tingkatkan kapasitas kalian terlebih dahulu, baru berdakwah mengajak masyarakat ke kebaikan," ujar Syahrin. 

Syahrin mengingatkan, dalam meningkatkan kapasitas mahasiswa anggota LDK harus belajar kepada guru yang memahami agama dengan baik dan benar, bukan yang setengah-setengah atau melalui buku dan media sosial semata. 

"Guru agama yang baik adalah yang literaturnya merujuk pada kedamaian, karena inti dari agama adalah mengajak menuju perdamaian," ujarnya. 

Kegiatan Dialog Pelibatan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan Birokrasi Kampus dalam Pencegahan Terorisme di kampus UIN Kalijaga terlaksana atas kerjasama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Yogyakarta. Kegiatan yang sama telah dan akan dilaksanakan di 32 provinsi se-Indonesia sepanjang tahun 2017. (Samsul Hadi/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Kajian Ceramah Felix Siauw Lengkap