Senin, 25 Maret 2013

Ihwal Islamisasi Nusantara

Oleh Muhammad Iqbal



Historiografi tentang Islamisasi Nusantara pada abad ke-14 sampai 16, biasanya dilakukan oleh para ahli arkeologi dan ahli bahasa–yang meneliti pelbagai macam teks ajaran Islam. Masalah utama yang biasanya dibahas adalah kapan Islam pertama kali memperlihatkan dampaknya. Islam di Jawa menyebar melalui Wali Songo, sembilan tokoh sakti Islam yang menyiarkan agama ini menurut tradisi Jawa. Ada banyak dongeng ihwal keajaiban yang mereka perlihatkan. Di antara Wali Songo, ada yang merupakan tokoh sejarah seperti Sunan Gunung Jati, Sunan Giri, Sunan Ngampel. Namun ada juga yang hanya legenda dan diragukan apakah mereka memang ada.

Ihwal Islamisasi Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ihwal Islamisasi Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ihwal Islamisasi Nusantara

Dari dongeng para wali itu selalu muncul kenyataan bahwa agama baru ini, yakni Islam lebih unggul sebagai kekuatan magis daripada agama yang lama (Buddha). Dari naskah agama Islam yang sampai pada kita dari zaman itu terungkap juga bahwa Islam yang menyebar ke Asia Tenggara adalah Islam Sufi yang berorientasi ke mistik. Menurut Michael Laffan, hanya Islam dalam bentuk mistik inilah yang dapat menyebar ke Nusantara (baca: Indonesia), karena cocok dengan alam rohani masyarakatnya.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

***

Misteri peralihan agama di Nusantara dari abad ke-14 sampai 16 belum terpecahkan. Peralihan ini dapat dikatakan berlangsung singkat dan kokoh, sebab sampai kini agama Islam, bagaimanapun penghayatannya, adalah yang paling dominan di Indonesia. Selain itu, sejak Islam tersebar di Nusantara, agama memainkan peran politik yang lebih penting daripada sebelumnya. Memang dalam Pararaton dikisahkan tentang para brahmana yang meninggalkan Tunggul Ametung untuk mengakui Ken Arok sebagai raja. Namun bandingkan peristiwa tunggal ini dengan masalah yang dihadapi oleh Sultan Agung ketika menghadapi para ulama, atau yang lebih tragis lagi Sunan Amangkurat I, yang dikatakan membunuh ribuan ulama untuk menegakkan kekuasaannya.

Dalam setiap pemberontakan yang dihadapi oleh dinasti Mataram Islam dan ulamanya berperan, seperti dalam pemberontakan Trunojoyo (1678), Perang Diponegoro (1825-1830), gerakan ratu adil seperti di Cilegon (1882), ataupun Sarekat Islam yang menjadi bagian dari pergerakan nasional pada abad ke-20. Dalam kasus Perang Aceh (1872-1912) dan Perang Banjar (1859-1906) misalnya, Islam dan para ulamanya juga berperan besar.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Dari uraian di atas tampak peralihan agama jelas memiliki arti politis dan sosiologis yang dalam. Mendiang H.J. Benda dari Yale University, seorang sarjana yang ahli perihal Asia Tenggara dan Indonesia, mengajukan hipotesa bahwa perubahan agama di Nusantara dan di Asia Tenggara daratan terjadi pada zaman yang sama. Menurut saya, hipotesa Benda ini patut mendapat perhatian jauh lebih besar daripada kisah ajaib Wali Songo.

H.J. Benda melihat peralihan agama di Asia Tenggara dari Civa-Buddha, atau Buddha menurut istilah Jawa, ke Islam pada abad ke-14-16 tidaklah unik. Di daratan Asia Tenggara, kecuali di Malaysia, terjadi pula peralihan agama ke ajaran Buddha Theravada memiliki ciri yang lebih kerakyatan daripada ajaran agama sebelumnya, yang berkisar pada Brahmanisme, dimana brahmana-nya merupakan golongan pendeta yang bertugas melegitimasi konsep dewa-raja. Dengan kata lain, kaum brahman ini melihat ke atas atau ajaran mereka tidak berakar ke bawah, ke rakyat.

Baik Islam maupun Buddha Theravada memiliki konsep yang egalitarian, semua orang adalah sama di mata Tuhan, apakah ia raja, priyayi, atau rakyat biasa (wong cilik). Para ulama dalam agama Islam dan para biarawan (biksu/pongyi) dalam agama Buddha Theravada merupakan tokoh agama. Berlainan dengan kaum brahman, ulama maupun pongyi mengkritik atau sering menunjukkan sikap lebih kritis terhadap kewenangan raja. Lebih penting dari ini, ulama dan pongyi hidup di tengah rakyat dan menjadi tokoh di sana, sehingga dapat menjadi counter elite terhadap elite politik, yakni para pejabat kerajaan atau golongan priyayi.

Berlainan dengan priyayi yang tinggal di keraton atau di kota kabupaten, hal yang juga dilakukan oleh kaum brahman dahulu, para ulama dang pongyi lebih dapat menjadi saluran bagi keluhan rakyat. Seperti telah disebutkan di atas, banyak pemberontakan dipimpin oleh ulama atau pongyi. Pendek kata, menurut H.J. Benda, peralihan agama di Asia Tenggara pada abad ke-14-16 memberi perubahan struktural yang sangat penting, sebagai akibat dari krisis agama sebelumnya maupun krisis dalam hubungan antara raja dan rakyatnya.

Di daratan Asia Tenggara, krisis dewa-raja terefleksi dari runtuhnya Angkor di Kamboja kini. Di antara monumen peninggalan para dewa-raja di Asia Tenggara, tidak ada yang semegah, seagung, dan semonumental Angkorwat. Angkorwat ini tidak kalah bila dibandingkan dengan monumen sejarah lain, seperti piramida para Firaun di Mesir atau bangunan di Iran. Dengan sendirinya pembangunan Angkorwat ini merupakan beban bagi rakyat. Tetapi kita tidak mendengar apa-apa ihwal keruntuhan Angkorwat. Kemungkinan besar rakyat meninggalkan tempat tersebut karena melarikan diri dari beban penderitaan atau terjadi epidemi.

Tidak ada lagi pusat di Kamboja yang memiliki bangunan semegah Angkorwat pasca Brahmanisme diganti dengan Buddha Theravada. Ankorwat sendiri ditutupi hutan tropis yang lebat selama berabad-abad dan baru “ditemukan” oleh sarjana Prancis pada abad ke-19.

Kalau perubahan agama dari abad ke-14 sampai 16 disebabkan oleh dinamika masyarakat sebagai reaksi terhadap beban dari atas, lantas mengapa bukan agama Buddha Theravada yang menyebar di Nusantara dan kepulauan Asia Tenggara, melainkan Islam? Dalam hal ihwal ini Semenanjung Malaysia harus dilihat pula sebagai bagian dari kepulauan Asia Tenggara yang menganut Islam, yang tersebar sampai ke Luzon (Filipina Utara) dan di sekitar Manila sebelum Spanyol datang.

Masalah ini timbul justru karena struktur Buddha Theravada dan Islam maupun Katolik-Spanyol yang kemudian tersebar di Filipina Utara, menurut Benda, tidak banyak berbeda. Jawabannya adalah faktor geografis dan sejarah. Kepulauan Asia Tenggara sangat penting sebagai daerah perdagangan dan dari abad ke-14 sampai 16 perdagangan Islam adalah yang unggul.

Perdagangan itu berpusat di Gujarat, India, yang jatuh di bawah kekuasaan Islam. Perdagangan Islam ini menyebabkan timbulnya kerajaan Maritim di Sumatera Utara, seperti Piddie, Pasai, dan kemudian Aceh. Malaka, yang sudah merupakan pelabuhan penting sebelum rajanya masuk Islam dan bergelar Sultan Malaka, sengaja menarik perdagangan Islam.

Perlindungan militer dan politis karena ancaman Ayuthia (Siam) maupun Majapahit (Jawa) merupakan faktor dari perubahan agama di Malaka. Sejarawan O.W. Woters menunjukkan alasan konkret mengapa para maharaja Malaka masuk agama Islam, yakni untuk memperkuat kedudukan dagang dan politiknya. Memang, Malaka di bawah para sultannya yang Islam menjadi pelabuhan dan pusat imperium lautan yang terbesar di Asia Tenggara sampai 1512, ketika kerajaan maritim ini jatuh ke tangan Portugis. Sampai masa itu Malaka adalah pengganti Sriwijaya dan pendahulu Singapura di zaman modern.

Penyebaran Islam melalui pedagangan itu, bagi Nusantara, mengungkapkan masalah lain di samping masalah kerajaan dengan Brahmanisme-nya dan dinamika masyarakat, yakni konflik antara negara maritim dan negara agraris-pedalaman. Para sejarawan Belanda, semisal J.C. van Leur dan Bertram Johannes Otto Schrieke, sudah mengajukan pola pertentangan antara kedua struktur politis tersebut. Sriwijaya mewakili pola maritim melawan Mataram I di sekitar abad ke-9 sampai 10. Kerajaan-kerajaan pesisir yang Islam seperti Demak, Kudus, Tuban dan Giri Ngampel mewakili pola maritim. Hal yang sama juga terjadi antara pesisir utara melawan Mataram II (Senopati Sultan Agung) pada abad ke-16.

***

Singkat kata, penyebaran agama Islam ke Nusantara harus dilihat tidak saja karena konflik sosial antara kerajaan Brahman dan masyarakat, tetapi juga dari sudut persaingan antara pesisir dan pedalaman-agraris, antara kosmopolitanisme dan isolasionisme. Melalui pola pertentangan ini para sejarawan mencoba mendedahkan perubahan sosial, politik ataupun ekonomi yang terjadi.

Bagaimana dengan dongeng ihwal Wali Songo yang berperan dalam penyebaran agama Islam? Zaman peralihan agama di mana pun juga selalu kacau, baik itu peralihan agama ke Islam, ke Katolik, atau ke Protestan. Perubahan itu selalu terkait dengan kisah-kisah ajaib. Yang terakhir ini adalah untuk memperkokoh kepercayaan dan penghayatan agama.

Dalam agama Kristen yang tersebar di Eropa, ada banyak cerita tentang kaum penyebar agama, orang suci, misalnya St. Patrick di Irlandia, St. George di Inggris yang membunuh naga, St. Wilibrodus di Belanda, St. Nicolas, atau St. Elizabeth yang melakukan hal-hal ajaib. Banyak di antara orang-orang suci itu, dalam usaha merasionalisasikan agama, kini mulai dikeluarkan dan tidak diakui oleh Gereja Katolik-Roma. Kendati demikian, usaha ini menimbulkan banyak protes dari umat Katolik, hal yang menunjukkan bahwa di Barat pun terdapat kesukaran untuk menyesuaikan rasio/ilmu dan kepercayaan dan penghayatan. Jadi, tidaklah mengherankan bila dalam penyebaran agama Islam di Jawa, ada pula kisah-kisah keajaiban Wali Songo.

Ketika menulis teorinya ihwal peralihan agama di Asia Tenggara, H.J. Benda mengambil contoh peran para biksu dalam melawan pemerintahan Ngo Dien Dhiem di Vietnam Selatan, peran para pongyi dalam pemberontakan Saya Sen di Myanmar pada 1930-an, dan peran para ulama dalam pemberontakan Cilegon (1882) di Nusantara. Para pemberontak dalam karya H.J. Benda itu gagal melawan negara.

Arkian, di masa kontemporer ini, agama sebagai jawaban masyarakat terhadap penindasan negara lebih relevan lagi, sebab kasus revolusi yang dipimpin oleh Ayatollah Khomeini terbukti dapat menggoncangkan negara totaliter modern Iran di bawah Syah Iran. Selama ini, ada kesan bahwa penindasan oleh negara dan perluasan campur tangan aparat dalam kehidupan masyarakat tanpa persetujuan masyarakat, yang merupakan gejala khas Dunia Ketiga, akan dijawab oleh masyarakat dengan revolusi liberal, sosialis, bahkan komunis. Padahal dari dahulu sampai kini jawaban masyarakat bisa juga melalui agama. Dengan kata lain, baik pada zaman kolonial maupun nasional, agama dapat menjadi unsur politis.



Penulis adalah alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Makam Ceramah Felix Siauw Lengkap

Jumat, 22 Maret 2013

Ini Keutamaan dan Hikmah Shalat Dhuha

Shalat dhuha termasuk salah satu dari shalat sunah yang dianjurkan. Terdapat banyak dalil, baik dari Al-Qur’an maupun hadits yang menegaskan keutamaan shalat dhuha. Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in menjelaskan sebagai berikut.

? ? ? ? "? ? ?" ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?..

Ini Keutamaan dan Hikmah Shalat Dhuha (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Keutamaan dan Hikmah Shalat Dhuha (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Keutamaan dan Hikmah Shalat Dhuha

Artinya, “Shalat dhuha disunahkan berdasarkan firman Allah SWT, ‘Bertasbih bersama dia di waktu petang dan pagi.’ Ibnu Abbas menafsirkan shalat isyraq adalah shalat dhuha. Bukhari-Muslim juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa ‘Rasulullah pernah berwasiat tiga hal kepadaku: puasa tiga hari dalam setiap bulan, shalat dhuha dua raka’at, dan witir sebelum tidur.’”

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Wasiat Nabi tersebut tidak hanya khusus bagi Abu Hurairah, tetapi berlaku untuk seluruh umat Nabi Muhammad SAW karena di dalam hadits lain disebutkan shalat dhuha memiliki banyak keutamaan dan hikmah. Di antara hikmah shalat dhuha ialah sebagai berikut.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Ampunan Dosa

Dalam hadits riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dijelaskan bahwa orang yang membiasakan shalat dhuha dosanya akan diampuni oleh Allah SWT, meskipun dosa tersebut sebanyak buih di lautan. Rasulullah bersabda sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Siapa yang membiasakan (menjaga) shalat dhuha, dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan,” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Tidak Dianggap Orang Lalai

Setiap orang tentu tidak ingin dianggap sebagai orang lengah ataupun lalai dalam hal mencari rahmat Tuhan. Salah satu cara agar terhindar dari sifat lalai adalah mengerjakan shalat dhuha. Rasulullah bersabda sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Orang yang mengerjakan shalat dhuha tidak termasuk orang lalai,” (HR Al-Baihaqi dan An-Nasa’i).

Dhuha sebagai Sedekah

Rasulullah bersabda sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Setiap pagi, ruas anggota tubuh kalian harus dikeluarkan sedekahnya. Amar ma’ruf adalah sedekah, nahi mungkar adalah sedekah, dan semua itu dapat diganti dengan shalat dhuha dua raka’at,” (HR Muslim).

Selain tiga hikmah di atas, masih banyak hikmah shalat dhuha yang disebutkan dalam hadits Nabi. Shalat Dhuha biasanya dikerjakan ketika matahari sudah mulai naik seukuran tombak, atau kisaran jam 7 pagi, sampai tergelincirnya matahari. Minimal raka’at shalat dhuha adalah dua raka’at dan lebih utama dikerjakan sebanyak delapan raka’at. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Berita, Kajian, Nasional Ceramah Felix Siauw Lengkap

Kamis, 07 Maret 2013

Penderitaan Istri Firaun dalam Mempertahankan Kebenaran

Katakan yang benar meskipun itu pahit. Sabda Rasulullah SAW ini menjiwai ketegaran Asiyah, istri Fir’aun, sejak ribuan tahun silam ketika suaminya yang angkuh itu memaksannya menanggalkan kebenaran.

Dalam ‘Uqudul Lujjain, Syekh Nawawi al-Bantani menceritakan hikayat awal keimanan Asiyah dari kesuksesan Nabi Musa AS mengalahkan tukang sihir suruhan Fir’aun. Penguasa otoriter yang mendaku dirinya sebagai Tuhan ini menantang Nabi Musa adu kebenaran dengan saling “unjuk kebolehan”.

Penderitaan Istri Firaun dalam Mempertahankan Kebenaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Penderitaan Istri Firaun dalam Mempertahankan Kebenaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Penderitaan Istri Firaun dalam Mempertahankan Kebenaran

Asiyah yang menyaksikan peristiwa tersebut akhirnya jatuh cinta pada ajaran Nabi Musa. Mukjizat telah terbentang, dan kebatilan terbukti gugur di hadapan kebenaran tauhid. Istri Fir’aun ini pun mantab menyatakan beriman.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Fir’aun betul-betul tidak terima dengan keputusan istrinya. Ia mengikat kedua tangan dan kaki Asiyah pada empat buah tiang. Tubuhnya dipaksa menatap sengatan matahari. Fir’aun dan pengikutnya lantas meninggalkan Asiyah begitu saja bak bangkai kadal yang terkapar di atas pasir.

Penderitaan perempuan malang ini belum berakhir. Karena beberapa saat kemudian, Fir’aun memerintahkan anak buahnya melemparinya dengan batu besar. Dalam perih, Asiyah berutur, “Wahai Tuhanku, dirikanlah rumah untukku di sisimu di dalam surga.”

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Seketika itu ia melihat sebuah rumah yang terbuat dari marmer putih. Lalu nyawanya dicabut, sebelum tubuhnya ditimpa batu besar hingga ia tidak merasakan sakit.

Fir’aun dalam kisah ini memperlihatkan kezaliman yang tiada batas. Ia tak segan-segan  menyiksa, bahkan membunuh, setiap orang yang berseberangan dengan dirinya, tak terkecuali istrinya sendiri.

Perilaku Fir’aun ini juga menandai  adanya struktur kekuasaan yang hegemonik dalam kehidupan bernegara sehingga akses kritik atau berpendapat secara bebas menjadi buntu. Dalam konteks kehidupan rumah tangga, Fir’aun sedang memamerkan dominasi laki-laki atas perempuan yang menjadi faktor ketidakharmonisan dan kekerasan dalam sebuah keluarga.

Sebaliknya, Asiyah mengajarkan kepada kita semua tentang kesabaran dalam menghadapi cobaan berat. Siksaan hebat dari Fir’aun tak menggoyangkan pilihannya terhadap ajaran tauhid. Berkat ketabahan dan keteguhannya menggenggam prinsip ini, Asiyah justru mendapat perlindungan dan kemuliaan. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap News Ceramah Felix Siauw Lengkap