Kamis, 07 Juni 2012

Kang Said: Saatnya Indonesia Jadi Kiblat Islam

Kediri, Ceramah Felix Siauw Lengkap. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengatakan, dunia Arab yang akhir-akhir ini dirundung konflik antarwarga negara, menjadikan umat Islam tidak bisa berharap banyak pada kemajuan peradaban Islam dari negara-negara Islam di Timur Tengah.

Kang Said: Saatnya Indonesia Jadi Kiblat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Saatnya Indonesia Jadi Kiblat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Saatnya Indonesia Jadi Kiblat Islam

“Mesir masih gonjang-ganjing. Yaman perang saudara, Arab semua, Islam semua, sudah 6 bulan, yang mati sudah 2000 lebih. Apa yang bisa diharapkan dari negara seperti itu. Peradaban, kemajuan kebudayaan apa yang bisa kita harapkan, kemajuan apa untuk Islam, dari Irak, Yaman, Syiria, yang bisa kita harapkan. Tidak ada,” paparnya dalam acara ‘Reuni Akbar Ke V Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal)’ di Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri Jawa Timur, Selasa (26/5).

Karenanya, menurut pria kelahiran Cirebon 3 Juli 1953 ini, sudah saatnya umat Islam Indonesia memberikan contoh kepada dunia bahwa Islam di Indonesia yang tidak mempertentangkan antara agama dan nasionalisme, patut dijadikan sebagai kiblat beragama atau teladan dalam kehidupan beragama dan bernegara.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

“Sudah saatnya yang menjadi qiblatul islam, bukan qiblatus sholah, awas jangan salah paham. Qiblat budaya Islam, kiblat akhlak Islam, Indonesia. Indonesianya, Nahdlatul Ulama,” katanya.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Dalam pandangan kiai yang akrab disapa Kang Said ini, salah satu sebab konflik di Timur Tengah adalah karena tidak adanya rasa nasionalisme terhadap tanah airnya. Mencintai tanah air dengan cara menjaga, merawat, dan mempertahankannya dengan baik, harus diutamakan daripada berdakwah, karena dakwah tidak mungkin dilakukan apabila konflik terus berlangsung.

“Oleh karena itu Mbah Yai Hasyim Asy’ari selalu mengatakan, Islam dan nasionalisme harus saling memperkuat. Man laisa lahu ardl, laisa lahu tarikh. Wa man laisa lahu tarikh, laisa lahu dzakiroh. Barang siapa tidak punya tanah air, tidak akan punya sejarah. Sejarah ditulis di tanah air ini. Ada orang pidato, Islam, Islam, Islam. Ini mau berjuang Islamnya di atas angin apa? Di atas tanah air. Oleh karena itu, tanah air dulu kita amankan, kita kuatkan, baru bicara Islam. Bangun masjid, madrasah, pesantren, di atas tanah air. Kalau tanah airnya konflik, perang saudara, kober mboten (sempat tidak)? Nggak sempat,” tegasnya.

Karena kehendak menjadikan Indonesia sebagai kiblat Islam, menjadi harapan bagi kemajuan peradaban, kemajuan akhlak, dan karakter bagi umat Islam di dunia, Muktamar NU yang akan digelar pada 1-5 Agustus mendatang di Jombang Jawa Timur mengambil tema “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”.

“Ada yang tanya, kenapa Islam Nusantara, tidak Islam Ahlussunah wal Jama’ah saja? Maksudnya Islam Nusantara itu ya Ahlussunah wal Jama’ah, Islam yang membawa hidayah  dan rohmah, Islam yang menyatu dengan budaya. Langit, wahyu, menyatu dengan kecerdasan manusia, budaya manusia, kreativitas manusia. Tidak bertentangan dengan budaya, tidak menghapus budaya,” jelasnya. (Khoirul Anwar/Mahbib)

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Berita, Hadits, Anti Hoax Ceramah Felix Siauw Lengkap

Rabu, 06 Juni 2012

Jam’iyyah NU, Pergerakan Para Guru

Lombok Tengah, Ceramah Felix Siauw Lengkap

Ketua PWNU Nusa Tenggara Barat Tuan Guru H. Taqiuddin Mansur mengatakan, setiap warga NU, apa pun profesinya, jangan pernah melupakan jasa guru-guru yang telah mendidik di masa kecil, remaja hingga dewasa.

Jam’iyyah NU, Pergerakan Para Guru (Sumber Gambar : Nu Online)
Jam’iyyah NU, Pergerakan Para Guru (Sumber Gambar : Nu Online)

Jam’iyyah NU, Pergerakan Para Guru

“Jadi apa saja, bupati, menteri, jangan melupakan gurumu. Guru derajatnya lebih tinggi dari apa pun,” kata pengasuh Pondok Pesantren Al-Manshuriyah Ta’limushibyan Bonder, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat tersebut di Seminar Nasional Perlindungan Profesi Guru di hotel D’Praya Kamis (23/2).

Ia menambahkan, guru jangan diartikan sebagai orang yang memunyai Surat Keputusan dari negara, tapi orang yang telah mendidik kita. Setelah kita dididik, dianjurkan kita juga menjadi guru bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

“Kalau tidak bisa jadi guru, maka jadilah pembelajar. Jika tidak bisa, jadi pendengar yang baik,” tambah tuan guru kelahiran Lombok Tengah 1953 tersebut.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Menurut tokoh agama yang pernah aktif di IPNU, PMII, dan GP Andor tersebut, gerakan Nahdlatul Ulama sebenarnya adalah pergerakan guru. Karena, menurutnya, NU adalah gerakan pendidikan, melalui kiai dan tokoh NU mengajari jamaahnya dan santri.

Ia berharap, Pergunu mampu meningkatkan peran dan fungsi guru-guru NU agar mampu mendidik anak-anak menjadi kader yang berkualitas.

Rapat Kerja Nasional Pergunu bertema Menggerakkan Pendidikan Nilai Ahlussunah wal-Jama’ah An-Nahdliyah untuk Kedaulatan NKRI tersebut berlangsung sampai Ahad (26/2). Rencananya, kegiatan tersebut dihadiri Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Meme Islam Ceramah Felix Siauw Lengkap