Rabu, 31 Januari 2018

Fortuna Band Mengaku Terinspirasi Gus Dur

Tangerang, Ceramah Felix Siauw Lengkap. Pengaruh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ternyata juga menyentuh para pelaku musik. Sebuah grup musik bernama Fortuna Band menempatkan presiden ke-4 RI ini sebagai ilham bagi karyanya.

Fortuna Band Mengaku Terinspirasi Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Fortuna Band Mengaku Terinspirasi Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Fortuna Band Mengaku Terinspirasi Gus Dur

“Lagu andalan kami yang berjudul ‘Satu Rasa Satu Hati’ terinspirasi dari tokoh  NU, yaitu Gus Dur, dimana lagu tersebut menceritakan tentang perdamaian dan persatuan bangsa. Maka kami mendaulat Syaiful Arif selaku penulis buku Humanisme Gus Dur sebagai salah satu model video klip lagu tersebut,” kata Nola, gitaris Fortuna Band, saat ditemui di tempat kumpul grup ini di Pondok Hijau Ciputat, Tengerang Selatan, Banten, Ahad (20/10).

Band yang terdiri dari lima personil,  yakni Irfan (vokal), Putro (gitar), Milham (bass), Nola (gitar) dan Ade (drum), ini  mengaku ingin memunculkan aliran musik baru mereka sebut I-POP (Indonesian POP). Musik I-POP mengandung cita rasa kebudayaan Indonesia dalam aransemen lagu, misalnya nada gamelan Jawa, nada musik daerah Kalimantan, dan Saluang Minangke.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Fortuna Band juga berkomitmen meneruskan jejak Wali Songo yang mejadikan musik sebagai media dakwah. Hal ini mereka tampakkan dalam simbol bintang sembilan yang menempel pada logo kepingan CD album mereka. Jumlah sembilan merujuk pada sembilan wali penyebar Islam di Tanah Jawa.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Lebih jauh Putro menjelaskan, hubungan Fortuna Band dengan NU cukup intim. “Kami mulai sering diundang untuk perform (tampil) oleh sahabat-sahabat dari Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia) Tangsel (Tangerang Selatan), dan kami juga pernah menjadi Guest Star di acara peringatan Kirab Resolusi Jihad 10 November 1945 yang diselenggarakan di UIN Jakarta,” terangnya.

“Saat band kami di wawancara di radio dan televisi, kami selalu mengatakan bahwa kunci menjaga kesolidan grupa adalah dengan membaca Yasin dan tahlil berjamaah setiap malam Jumat, dan membaca Ratib al-Hadad berjamaah setiap mau perform,” tambah Putro.

Fortuna Band juga membuat aransemen lagu Shalawat Badar untuk dijadikan nada sambung pribadi atau RBT yang 100 persen dari keuntungan penjualan akan disumbangkan ke Panti Asuhan dan Pesantren di sekitar Tangerang Selatan. (Adriansyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Kiai Ceramah Felix Siauw Lengkap

Tips Jitu Kiai Saifuddin Zuhri Taklukkan Murid Bandel

Sudah menjadi rahasia umum barangkali, di tiap kelas baik di sekolah umum maupun madrasah, ada saja anak bandel atau nakal, meski dalam batas-batas tertentu. Misalnya, suka membuat onar, mengganggu teman dan membuat gaduh. Hal ini, sedikit banyak, tentu mengganggu proses pembelajaran di dalam kelas.

Menangani hal ini, ada berbagai cara yang dilakukan guru atau ustadz di kelas, mulai dari menghukum sampai mencibirnya sebagai contoh yang tidak baik untuk ditiru. Respon yang demikian ini, kadang tidak solutif. Alih-alih membuat sang anak berhenti, yang ada justru semakin bandel dan menjadi-jadi.

Tips Jitu Kiai Saifuddin Zuhri Taklukkan Murid Bandel (Sumber Gambar : Nu Online)
Tips Jitu Kiai Saifuddin Zuhri Taklukkan Murid Bandel (Sumber Gambar : Nu Online)

Tips Jitu Kiai Saifuddin Zuhri Taklukkan Murid Bandel

KH Saifuddin Zuhri (alm), selain sebagai tokoh pergerakan nasional, komandan milisi Islam Hizbullah dan mantan menteri agama RI, beliau juga dikenal sebagai pendidik. Dalam otobiografinya yang legendaris, Guruku Orang-orang dari Pesantren, ia banyak menceritakan pengalamannya dalam mendidik. Salah satu hal yang diungkapkan, adalah bagaimana cara seorang guru menangani murid yang bandel atau nakal.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

“Anak yang bersangkutan dipanggil ke muka? kelas, diberi nasihat dan peringatan seperlunya. Atau menahan dia pada jam mengasoh (istirahat–red) untuk sekali lagi diberi nasihat dan peringatan. Atau dengan jalan aku panggil ke rumah. Aku tanyakan kepadanya, apakah cukup aku sendiri yang menasihati, atau biar aku serahkan kepada orang tuanya untuk dinasihati?” demikian tulis ayahanda Menag RI Lukman Hakim Saifuddin.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Tak hanya itu, jurnalis NU tersebut juga masih memberi opsi yang tak kalah jitu, dengan menulis sebagai berikut: “Ada lagi dengan cara lain. Anak itu aku dekatkan di hatiku. Aku panggil ke rumah untuk membantu pekerjaanku yang tidak ada hubungannya dengan sekolah. Misalnya aku ajak menyertai aku ke pasar membeli bibit tanaman dan dia kusuruh menemani aku menanam bibit itu di halaman rumahku. Pokoknya aku dekatkan dengan hatiku dan kuinsyafkan bahwa aku sangat sayang kepadanya,” tulisnya.

Dengan demikian, ungkap Kiai Saifudin, pada umumnya ia berhasil menjadikan anak yang bandel, nakal, menjadi redam. Meski begitu, imbuhnya, tidak bisa sekaligus, memerlukan sedikit waktu dan kesabaran.

Dalam teori dan buku-buku, hal ini biasanya dibahas dalam psikologi pendidikan. Bagi anda para ustadz ataupun guru yang memiliki murid bandel – selain dengan doa – ada? baiknya menerapkan saran, anjuran dan kiat dari tokoh NU ini. Secara empirik, beliau telah membuktikan keberhasilannya dalam menaklukkan anak-anak yang membandel. Semoga berhasil. (Ahmad Naufa)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Hikmah, Nahdlatul Ceramah Felix Siauw Lengkap

Puncaki Harlah NU dengan Khitanan Massal

Bangkalan, Ceramah Felix Siauw Lengkap. Tuntas sudah gelaran acara peringatan hari lahir atau Harlah NU yang diamanatkan panitia pelaksana kepada Pimpinan Anak Cabang Muslimat NU Arosbaya Bangkalan Madura. Sabtu (30/5) pagi 75 anak mengikuti acara Khitanan Massal menandai berakhirnya rangkaian kegiatan Harlah.

Puncaki Harlah NU dengan Khitanan Massal (Sumber Gambar : Nu Online)
Puncaki Harlah NU dengan Khitanan Massal (Sumber Gambar : Nu Online)

Puncaki Harlah NU dengan Khitanan Massal

Walau tidak bisa menghabiskan quota 100 anak, Ayyama Munaawir, Ketua PAC Muslimat Arosbaya merasa bersyukur.

“Minimal kami telah ikut berbagi dengan keluarga kurang mampu yang hampir kesemuanya adalah warga NU, ada missi sosial dari kegiatan yang kita gelar bersama Puskesmas Arosbaya dan Puskesmas Tongguh ini," tuturnya.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Dalam rangkaian Harlah ke-92 NU selain menggelar khitanan massal, PAC. Muslimat juga diberi kepercayaan untuk menggelar Lomba Balita Sehat tingkat kecamatan Arosbaya.

Dua kegiatan itu juga dijadikan ajang perkenalan dengan seluruh pimpinan ranting Muslimat, instansi sektoral yang ada di kecamatan Arosbaya serta masyarakat luas. Hal ini tidak lepas dari umur kepengurusan Ayyama yang baru berusia 2 (dua) bulan dan masih menunggu prosesi pelantikan dan pengukuhan oleh PC. Muslimat Bangkalan.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Secara berkelakar aktifis perempuan yang juga keluarga pesantren Al-Ghozali Paserean ini menyebut bahwa kepengurusannya termasuk curi start dalam berkegiatan.

Sukses pelaksanaan dari kedua kegiatan ini memberikan keyakinan kepada PAC Muslimat NU untuk terus berkiprah dan berbuat kepada jamaah, Badan otonom NU untuk perempuan ini berharap agar kedepannya terjadi sinergi program dengan Banom lain yang ada di bawah jaringan MWCNU Arosbaya.

“Hari ini kita telah memulai, dan kita berkeyakinan bahwa MWCNU Arosbaya akan mendukung keinginan besar dimaksud. Sementara kepala puskesmas Arosbaya dr. Danial mewakili mitra kegiatan mengaku cukup puas dengan kegiatan ini dan berharap kedepan kerjasama yang ada terus digalakkan, dengan siapapun dan dalam bentuk apapun,”? kata Ayyama.

“Semua yang dilakukan itu merupakan sebuah bentuk terima kasih puskesmas kepada masyarakat Arosbaya yang telah memberikan kepercayaan penagangan kesehatannya kepada puskesmas baik di Arosbaya maupun di Tongguh tutur kepala puskesmas perempuan pengganti dr Aida Rachmawati yang kini dipercaya menjabat kepala dinas kesehatan kabupaten bangkalan,” tambahnya. (Ibnu Azzauri/ Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Tegal Ceramah Felix Siauw Lengkap

Selasa, 30 Januari 2018

Sentuhan Gus Dur Jadi Kunci Kesuksesan Sejumlah Tokoh

Jakarta, Ceramah Felix Siauw Lengkap. Siapa yang tak kenal Mahfud MD, mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yang selama menjabat telah menunjukkan konsistensinya dalam mengawal hukum di Indonesia. Publik juga mengenal KH Said Aqil Siroj, ketua umum PBNU, yang dengan setia mengawal NKRI dan kemajemukan di Indonesia.

Sentuhan Gus Dur Jadi Kunci Kesuksesan Sejumlah Tokoh (Sumber Gambar : Nu Online)
Sentuhan Gus Dur Jadi Kunci Kesuksesan Sejumlah Tokoh (Sumber Gambar : Nu Online)

Sentuhan Gus Dur Jadi Kunci Kesuksesan Sejumlah Tokoh

Itulah beberapa contoh tokoh nasional yang besar dengan sentuhan tangan Gus Dur. Tanpa sentuhan Gus Dur, mereka-mereka itu belum tentu memperoleh pencapaian seperti itu. Bagi Kiai Nuril Arifin, sahabat Gus Dur yang dikenal dengan pasukan berani matinya ini, kemampuan Gus Dur dalam merawat dan mengawal kader-kadernya sehingga menjadi tokoh, baik di nasional maupun daerah merupakan salah satu bukti kewalian.

“Seorang wali tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi bagaimana memberdayakan masyarakat,” katanya.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Tak terhitung para kader Gus Dur yang berkiprah dalam berbagai bidang, dari kiai dan ulama, birokrat, politisi, ilmuwan, aktifis LSM dan lainnya. Tak harus selalu dikenal oleh publik, peran-peran yang mereka jalankan di masyarakat dengan sentuhan kemanusiaan merupakan kelanjutan dari cita-cita Gus Dur yang terus dihidupkan.

Kezuhudan Gus Dur 

Soal kezuhudan Gus Dur, Gus Nuril, panggilan akrabnya, mengatakan, jarang ada orang yang bisa seperti mantan ketua umum PBNU ini. Ia menuturkan, suatu ketika, menjelang lebaran kurang dari satu hari, ia disambati Gus Dur karena tidak punya uang, padahal Idul Fitri sudah menjelang.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Sampean enak, tiap ceramah pasti dapat sangu. Sekarang ini, saya ngak punya uang sama sekali,” kata Gus Dur.

Kebetulan, saat itu, ia sedang memegang uang tiga juta. Dua juta diberikan pada Gus Dur, lalu yang sejuta buat dirinya sendiri. Belum sempat beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba ada tamu yang datang, dan menyampaikan mau membuat tempat wudhu di musholla, tetapi tidak punya uang. Tanpa pikir panjang, Gus Dur memberikan uang 1.5 juta.

Gus Dur juga pejuang kemanusiaan sejati. Ia memberi bantuan kepada siapapun tanpa melihat asal usul, agama atau golongan. Banyak orang ketika memberi bantuan, masih melihat agamanya apa, lalu kemudian masih dilihat golongannya atau partainya apa, Gus Dur menempatkan sisi kemanusiaan diatas segalanya.

“Sifat-sifat seperti ini merupakan sifat yang dimiliki oleh para wali, yang menempatkan rahmat bagi semua orang diatas kepentingan sempit,” tandasnya.

Ia mengaku sudah akrab dengan Gus Dur sejak kecil. Karena keyakinannya akan kewalian Gus Dur inilah yang membuat ia terus mendukung dalam masa-masa krisis kepemimpinan, ketika banyak orang sudah mulai menyingkir dari sekitar untuk menyelamatkan diri masing-masing.

“Dan apa yang saya lakukan ternyata benar, terbukti setelah Gus Dur meninggal, semua mengakui peran dan jasanya,” tandasnya.



Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Kiai, Aswaja, Hikmah Ceramah Felix Siauw Lengkap

Senin, 29 Januari 2018

Universitas NU dan Masa Depannya (2)

Oleh Mh Nurul Huda

--Kini, tren pendidikan sedang menuju ke arah model integral antara pendidikan sains dan teknologi plus pendidikan spiritual, moral dan etika. Ada pesantren dan seminari (pesantrennya Kristen) lengkap dengan madrasah dan perguruan tingginya.

Universitas NU dan Masa Depannya (2) (Sumber Gambar : Nu Online)
Universitas NU dan Masa Depannya (2) (Sumber Gambar : Nu Online)

Universitas NU dan Masa Depannya (2)

Indonesia sama sekali bukan suatu kekecualian. Di India ada “Ananda Marga” yang dikenal populer dengan meditasi yoga-nya. Neohumanisme-nya Prabhat Ranjan Sarkaratau yang dipanggil Shrii Shrii Ananda Murti oleh pengikutnya membentuk suatu komunitas epistemik yang luas pengaruhnya. 

Itu artinya skema modernisme, seperti yang disinggung sebelum-sebelumnya, tidak seutuhnya jalan. Begitu pula skema pasangannyayakni sekularisme. Ia kian dianggap kurang memenuhi atau hanya secara parsialsaja memenuhi kebutuhan hakiki manusia dan alam semesta.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Kata “skema” (modernisme, sekularisme) yang dimaksud di sini adalah pola yang terjadi di universitas-universitas Barat yang hendak dijadikan model sempurna untuk lembaga pendidikan di semua tempat. Padahal sebetulnya ia adalah produk “conceptual construct”, suatu ideal-type, yang menggolongkan realitas kompleks nan kaya ke dalam dua buah kutub dari satu garis kontinuum yang saling berlawanan. Dalam dirinya ia problematik, meskipun kenyataannya berlaku karena dimungkinkan oleh adanya komunitas epistemik berikut infrastruktur pendukungnya.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Umpamanya boleh-boleh saja penulis bilang “manusia adalah rasionya”, dan bekerja dalam skema menurut citra diri manusia (image of man) macam itu. Tetapi secara bersamaan penulis telah membodohi diri sendiri bahwa manusia menyangkut fisiknya (jism), psikisnya (nafs), rasionya(‘aql), hatinya (qalb), spiritualnya (ruh) yang semua itu dapat diketahui dan diolah lewat pengenalan terhadap diri dan kehidupan, lewat agama atau kearifan dan tradisi-tradisi agung (greattradition) masyarakat. Ahli pedagogi akan mengatakan skema pendidikan pada akhirnya akan ditentukan oleh asumsi-asumsi mengenai citra diri manusia yang mendasarinya dan konteks kebutuhan yang melingkupinya. 

Sekarang ini sebuah momen menarik bagi kita semua. Universitas NU hadir dan dinyatakan merupakan trans-formasi spirit pesantren ke dalam tubuh universitas. Jika hal ini benar maka berarti suatu skema alternatif umum sedang dijalankan untuk mengatasi kekurangan-kekurangan modernisme dan sekularisme. Skema yang muncul dari kebutuhan akan konvergensi antara sains dan moral dalam pedagogi kontemporer.

Di Indonesia, pesantren memang sudah lama dipandang sebagai mata air ilmu dan kearifan, bahkan dianggap salah satu tradisi agung (greattradition) masyarakat. Setidaknya dinyatakan demikian oleh Prof Martin van Bruinessen (1995), salah satu sarjana yang selama ini tekun meneliti pesantren. Mungkin saja pernyataan ini ada yang menyangkal, dianggap eksagerasi (berlebih-lebihan) oleh satu-dua orang dari segolongan kecil komunitas epistemik yang lain. Namun penyangkalan itu tidak menghapus kenyataan dipeganginya spirit dan nilai-nilai agungnya oleh komunitas pesantren sendiri dan diakui demikian peranan pentingnya dalam sejarah pendidikan nasional dan dalam kehidupan secara umum oleh masyarakat luas hingga kini.

Sejak sebelum kemerdekaan, tokoh nasionalis Indonesia Dr. Sutomo lewat artikelnya “Nationaal-onderwijs-congres” dalam rangka polemiknya dengan Sutan Takdir Alisyahbana sang“pelopor pembaratan”, demikian tulis van Bruinessen, sudah memuji pesantren sebagai lembaga pendidikan dasar pribumi yang mandiri. Pesantren menanamkan semangat kooperasi, kerjasama, kepada para santri. Dan kepada mereka semua, pesantren memperlakukan sama tanpa memandang latar belakang kelas sosialnya (van Bruinessen, 1994). 

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, tokoh pendidikan kita sebagaimana diketahui, menggunakan sistem among dalam perguruan Taman Siswa yang didirikannya. Pendidikan pesantren dan lalu perjumpaan pemikirannya dengan Maria Montessori, John Dewey serta persahabatannya dengan tokoh pendidikan India Rabindranath Tagore,memberi inspirasi untuk membangun perguruan yang setara paradigmanya. Paguron dan pesantren dijadikannya model khas pendidikan pribumi. Gelar ningratnya pun ia tanggalkan, lalu berganti nama Ki Hajar Dewantara.

Tidak perlulah rasanya penulis memaparkan lebih jauh kesaksian-kesaksian tertulis dari para cendekiawan dan intelektual pesantren sendiri, ataupun kajian-kajian terbaru historiografi pesantren atau karya-karya sastra dari tradisi agung pesantren. Mengingat semua itu sudah sewajarnya menjadi diantara bacaan wajib para pembelajar, sebagaimana halnya bacaan wajid dari karya-karya lainnya. 

Bukan maksud penulis disini untuk menimang-nimang kisah masa lalu. Tapi sungguh-sungguh apa jadinya kita semua pada masa kini, jika tanpa wawasan dan belajar dari masa lalu. Karena itu kita patut berterima kasih kepada para sejarahwan yang telah menulis kembali masa lalu dan menemukan kembali relevansi dan signifikansinya bagi kita, kini dan di masa depan.

Bagaimanapun juga, masa lalu sebetulnya bukanlah entitas yang terpisah dari masa depan. Keduanya juga bagian yang tak terpisahkan dari masa kini. Dipandang secara eksistensial, masa lalu adalah masa kini yang sudah berjalan (having-been present) dan masa depan adalah masa kini yang akan terjadi (will-be present).

Akhirnya, perkenankan penulis mengutip dari artikel Dr Sutomo dalam Polemik Kebudayaan. “Di dalam kemajuan apa pun juga, di dalam ilmu mana pun kemajuan baru tercapai, dapat berjalan terus, dapat ‘melihat ke depan’ dengan selamat dan bahagia, kalau lebih dulu menengok ke belakang”. (bersambung)

Mh Nurul Huda, pekerja budaya, dosen Program Studi Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia di Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Santri, Sholawat, Pondok Pesantren Ceramah Felix Siauw Lengkap

Ini Dampak Full Day School pada Kejiwaan Anak

Jakarta, Ceramah Felix Siauw Lengkap - Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdatul Ulama (IPPNU) menolak rencana Mendikbud Muhadjir Effendy mengenai sekolah yang hanya digelar Senin hingga Jumat. IPPNU mendalami dan melihat dampak luar biasa jika sistem belajar full day school bagi para pelajar Indonesia diterapkan.

“Dampak yang ditimbulkan menyangkut waktu belajar siswa yang diforsir sehari penuh mulai pagi sampai sore. Jika diterapkan secara nasional, maka akan ada banyak pemaksaan dan penyesuaian yang berpotensi mematikan model-model belajar yang sudah ada,” kata Ketua Umum IPPNU Puti Hasni, Senin (12/6).

Ini Dampak Full Day School pada Kejiwaan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Dampak Full Day School pada Kejiwaan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Dampak Full Day School pada Kejiwaan Anak

Khazanah di pesantren dan pedesaan yang pada umumnya siswa belajar di sekolah umum pada pagi hari, sedangkan siang hingga sore di TPQ dan madrasah diniyah. Waktu belajar yang terlampau padat bagi siswa usia tertentu malah akan berpotensi membuat stres, tidak siap mental, dan frustasi belajar, kurangnya waktu bermain dan berinteraksi dengan orang tua, hal itu akan membebani siswa dan tidak efektif diterapkan jika kondisi siswa sudah kepayahan secara psikologis.

Menurut Puti, Kajian mendalam dan komprehensif mutlak harus dilakukan oleh Kemendikbud dengan melibatkan segenap pemangku lembaga pendidikan yang selama ini memiliki metodologi dan kultur belajarnya sendiri, terutama dalam konteks penerapan full day school.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Ceramah Felix Siauw Lengkap

“Rasionalisasi full day school oleh pemerintah belum tepat menggambarkan situasi, kondisi, dan praktik belajar sebagian besar sistem pendidikan di lembaga-lembaga sekolah, terutama madrasah diniyah dan pesantren. Full day school mungkin cocok untuk siswa yang orangtuanya bekerja sehari penuh, tapi kurang tepat untuk kondisi lain, terutama lingkungan pedesaan dan pesantren,” jelas Puti.

Kebijakan yang dipandang bagus dan positif sekalipun, tidak bisa seketika diterapkan di lingkungan pendidikan yang beragam. Justru ada kekkawatiran besar akan menghilangkan khazanah nilai-nilai, tradisi, dan kultur pendidikan yang selama ini dianggap efektif mengajarkan nilai agama dan moral anak didik, imbuh Puti. (Anty Husnawati/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Berita, AlaSantri, Habib Ceramah Felix Siauw Lengkap

Ansor Pematangsiantar Berikan Modal untuk Usaha Kecil

Pematangsiantar, Ceramah Felix Siauw Lengkap

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara melalui Lembaga Keuangan Mikro Syariah Ansor (LKMSA) menjalin kerja sama dengan perusahaan dalam pembinaan usaha mikro kader Ansor dan pemberdayaan sosial masyarakat.

Ansor Pematangsiantar Berikan Modal untuk Usaha Kecil (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Pematangsiantar Berikan Modal untuk Usaha Kecil (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Pematangsiantar Berikan Modal untuk Usaha Kecil

PC GP Ansor Kota Pematangsiantar memfasilitsi beberapa usaha mikro dan usaha kecil yang merupakan binaan dari Lembaga Keuangan Mikro Syariah Ansor (LKMSA) GP Ansor Kota Pematangsiantar dalam bentuk modal usaha melalui Program Kemitraan dengan Perusahaan BUMN. Bantuan yang akan disalurkan bervariasi berdasarkan kriteria yang ditentukan antara Rp 5 juta sd Rp 30 juta.

Arjuna, Ketua PC GP Ansor Kota Pematangsiantar menyatakan bahwa sebagaimana prosedur yang ditentukan, calon mitra binaan mengajukan surat permohonan yang dilampiri dengan berkas kelengkapan seperti pasfoto, fotokopi KTP, fotokopi NPWP, fotokopi kartu keluarga, nomor rekening, foto lokasi/tempat usaha, dan surat izin usaha.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Kemudian dilakukan evaluasi dan survei. Untuk saat ini calon mitra binaan LKMSA GP Ansor Kota Pematangsiantar yang lulus sesuai kriteria dan akan mendapatkan bantuan usaha hanya 20 mitra. “Semoga bantuan tersebut dapat meningkatkan kemampuan kewirausahaan kader-kader Ansor di Pematangsiantar,” ujar Arjuna.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Sebelumnya LKMSA PC GP Ansor Kota Pematangsiantar telah teregistrasi sebagai Konsultan Pendamping Koperasi Usaha Kecil Menengah (KUMKM) dengan nomor registrasi 12.72.00795, sebagai implementasi visi pemberdayaan potensi kader dan misi menjadi sentrum lalu lintas informasi dan peluang usaha para kader.

Sesuai fungsi dan perannya, LKMSA GP Ansor Kota Pematangsiantar membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi pengurus, anggota dan kader GP Ansor pada khususnya, untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya melalui penyediaan akses keuangan berskala mikro.

LKMSA GP Ansor juga turut dalam upaya pemberdayaan ekonomi, pendistribusian modal, pemutusan hubungan dengan rentenir, pengentasan kemiskinan, dan penciptaan lapangan kerja serta kesempatan berusaha melalui penyediaan akses keuangan kepada usaha kecil dan menengah (UKM). (Fajar Prabowo/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Nasional Ceramah Felix Siauw Lengkap

Aswaja NU Center PCNU Pamekasan Sebar Buku Khazanah Aswaja

Pamekasan, Ceramah Felix Siauw Lengkap - Pengurus Aswaja NU Center (Asnuter) PCNU Pamekasan terus bergerak aktif menguatkan paham Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja). Selain getol menjadi fasilitator kajian keaswajaan, pengurus Asnuter juga menyebarkan buku Khazanah Aswaja ke masyarakat sekaligus warga pergerakan.

"Kami melakukan itu supaya pemahaman terhadap Aswaja betul-betul berbasis literasi, tidak sebatas dari diskusi semata," terang Sekretaris Asnuter K Mukhlis Nashir, Ahad (19/11).

Aswaja NU Center PCNU Pamekasan Sebar Buku Khazanah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja NU Center PCNU Pamekasan Sebar Buku Khazanah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja NU Center PCNU Pamekasan Sebar Buku Khazanah Aswaja

Tiap kali menjadi pemateri dalam sebuah forum diskusi, pria yang akrab disapa Ra Mukhlis tersebut membagikan buku Khazanah Aswaja secara gratis kepada panitia. Itu masih terlihat pada Sabtu (18/11) saat Ra Mukhlis menjadi pemateri Aswaja sebagai Manhajul Fikr di Mapaba Pengurus Rayon Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PR PMII) As-Syafiie Komisariat Universitas Madura (Unira) Cabang Pamekasan di Balai Desa Plakpak, Pegantenan, Pamekasan.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

"Buku yang diterbitkan PWNU Jawa Timur ini penting kita pelajari, mesti jadi pijakan dalam tiap kali diskusi keaswajaan," tarang Ra Mukhlis Nashir.

Ketua Rayon PMII As-Syafiie Umarul Faruq menegaskan, pihaknya akan memanfaatkan dengan baik buku yang diterimanya dari mantan aktifis PMII UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut.

Setelah kegiatan Mapaba, terangnya, akan ada tindak lanjut dan kajian sehingga nanti buku Khazanah Aswaja bisa dibedah bersama-sama oleh warga pergerakan. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Kajian Islam, Amalan, Olahraga Ceramah Felix Siauw Lengkap

Negara Islam Gagal Satukan Bangsa

Jepara, Ceramah Felix Siauw Lengkap. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj mengingatkan persaudaraan seagama tidak cukup untuk menyatukan bangsa. Penggalangan persatuan sebuah bangsa harus juga dilengkapi dengan membangun ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah insaniyah.

Demikian pernyataan KH Said pada Harlah ke-71 Yayasan Mathaliul Huda desa Bugel kecamatan Kedung kabupaten Jepara, Rabu (17/9) malam.

Negara Islam Gagal Satukan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Negara Islam Gagal Satukan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Negara Islam Gagal Satukan Bangsa

“Negara Islam terbukti tidak mampu menyatukan umat. Sebut saja Afganistan yang penduduknya 100 % muslim. Negara ini tidak jauh dari konflik dan peperangan. Begitu pula Somalia yang penduduknya beraliran Suni mengalami hal serupa,” tegas Kang Said.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Sementara konsep Indonesia sebagaimana dicita-citakan KH Hasyim Asyari, bukanlah negara Islam. Indonesia negara yang diisi dengan nuansa Islam. Artinya, Kang Said menambahkan, sejalan dengan ukhuwah Islamiyah, persaudaraan sesama muslim diimbangi dengan ukhuwah wathaniyah, bersaudara dalam berbangsa dan bernegara.

“Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetapi tetap satu jua,” kata Kang Said.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Di samping itu, persaudaraan juga penting ditopang dengan ukhuwah insaniyah, persaudaraan kemanusiaan. “Harapannya dengan ukhuwah ini bangsa Indonesia bebas dari perang atau konflik,” ungkapnya.

Kehadiran Kang Said di madrasah Mathali’ merupakan putaran kedua. Sorenya, ia juga menyapa ribuan santri dan jamaah rebonan di pesantren “Roudlotul Mubtadiin” Balekambang desa Gemiring Lor kecamatan Nalumsari, Jepara. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Sejarah, Pahlawan Ceramah Felix Siauw Lengkap

Minggu, 28 Januari 2018

Malapetaka itu Bernama Lisan

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Malapetaka itu Bernama Lisan (Sumber Gambar : Nu Online)
Malapetaka itu Bernama Lisan (Sumber Gambar : Nu Online)

Malapetaka itu Bernama Lisan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Tak ada yang sia-sia seluruh yang diciptakan Allah. Kata-kata ini benar karena seluruh keberadaan di jagat ini memiliki maksud dan tujuan, entah diketahui manusia maupun tidak. Termasuk dalam hal ini seluruh anggota badan manusia, seperti mata, hidung, telinga, lisan, kaki, tangan, dan organ-organ luar dan dalam, serta sel-sel yang tak terhitung jumlahnya.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Semua itu merupakan nikmat besar. Nikmat yang tak mungkin bisa dibalas secara sepadan, kecuali sekadar mensyukurinya, baik melalui kata-kata maupun perbuatan. Bersyukur lewat perkataan bisa dilakukan dengan mengucapkan hamdalah atau kalimat puji-pujian lainnya; sementara bersyukur lewat tindakan akan tercermin dari kualitas perbuatan: apakah sudah baik, bermanfaat, atau sebaliknya?

Jamaahshalat Jum’at rahimakumullâh,

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Di antara semua anggota badan itu yang paling krusial adalah lisan. Lisan merupakan perangkat di dalam tubuh manusia yang bisa menimbulkan manfaat, namun sekaligus mudarat yang besar bila tak benar penggunaanya. Karena itu ada pepatah Arab mengatakan, salâmatul insane fî hifdhil lisân (keselamatan seseorang tergantung pada lisannya). Melalui kata-kata, seseorang bisa menolong orang lain. Dan lewat kata-kata pula seseorang bisa menimbulkan kerugian tak hanya bagi dirinya sendiri tapi juga bagi orang lain.

Karena saking krusialnya, Islam bahkan hanya memberi dua pilihan terkait fungsi lisan: untuk berkata yang baik atau diam saja. Seperti bunyi hadits riwayat Imam Bukhari:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.”

Rasulullah mendahuluinya dengan mengungkapkan keimanan sebelum memperingatkan tentang bagaimana sebaiknya lisan digunakan. Keimanan adalah hal mendasar bagi umat Islam. Ini menunjukkan bahwa urusan lisan bukan urusan main-main. Hadits di atas bisa dipahami sebaliknya (mafhum mukhalafah) bahwa orang-orang tak bisa berkata baik maka patut dipertanyakan kualitas keimanannya kepada Allah dan hari akhir. Ini menarik karena lisan ternyata berkaitan dengan teologi.

Kenapa dihubungkan dengan keimanan kepada Allah dan hari akhirat? Hal ini tentang pesan bahwa segala ucapan yang keluarkan manusia sejatinya selalu dalam pengawasan Allah. Ucapan itu juga mengandung pertanggungjawaban, bukan hanya di dunia melainkan di akhirat pula. Orang yang berbicara sembrono, tanpa mempertimbangkan dampak buruknya, mengindikasikan pengabaian terhadap keyakinan bahwa Allah selalu hadir menyaksikan dan hari pembalasan pasti akan datang. Allah juga mengutus malaikat khusus untuk mengawasi setiap ucapan kita.

? ? ? ? ? ? ? ?

"Tak ada suatu kalimat pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaf :18)

Banyak hal kotor yang dapat muncul dari lisan. Seperti ghibah atau membicarakan keburukan orang lain. Ghibah mungkin bagi sebagian orang asyik sebagai kembang obrolan, namun ia mempertaruhkan reputasi orang lain, memupuk kebencian, serta merusak kepercayaan dan kehormatan orang lain. Contoh lain adalah fitnah. Yakni, senagaja menebar berita tak benar dengan maksud merugikan pihak yang difitnah. Fitnah umumnya berujung adu domba, hingga pertengkaran bahkan pembunuhan. Sifat ini sangat dibenci Islam. Fitnah masuk dalam kategori kebohongan namun dalam level yang lebih menyakitkan.

Inilah relevansi manusia dikarunia akal sehat, agar ia berpikir terhadap setiap yang ia lakukan atau ucapkan. Berpikir tentang nilai kebaikan dalam kata-kata yang akan kita ucapkan, juga dampak yang bakal timbul setelah ucapan itu dilontarkan. Ini penting dicatat supaya kesalahan tak berlipat ganda karena lisan manusia yang tak terjaga. Politisi yang sering mengingkari janji itu buruk, tapi akan lebih buruk lagi bila ia juga tak pandai menjaga lisannya. Pejabat yang gemar berbohong itu buruk namun akan lebih buruk lagi bila ia juga pintar berbicara. Dan seterusnya.

Rasulullah bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Sungguh yang paling aku khawatirkan atas kalian semua sepeninggalku adalah orang munafiq yang pintar berbicara.” (HR At-Tabrani)

Jamaahshalat Jum’at rahimakumullâh,

Di zaman modern ini, ucapan atau ujaran tak semata muncul dari mulut tapi juga bisa dari status Facebook, cuitan di Twitter, meme di Instagram, dan lain sebagainya. Media sosial juga menjadi ajang ramai-ramai berbuat ghibah, fitnah, tebar kebohongan, provokasi kebencian, bahkan sampai ancaman fisik yang membahayakan. Makna lisan pun meluas, mencakup pula perangkat-perangkat di dunia maya yang secara nyata juga mewakili lisan kita. Dampak yang ditimbulkannya pun sama, mulai dari adu domba, tercorengnya martabat orang lain, sampai bisa perang saudara.

Karena itu, kita seyogiannya hati-hati berucap atau menulis sesuaitu di media sosial. Berpikir dan ber-tabayyun (klarifikasi) menjadi sikap yang wajib dilakukan untuk menjamin bahwa apa yang kita lakukan bernilai maslahat, atau sekurang-kurangnya tidak menimbulkan mudarat. Sekali lagi, ingatlah bahwa Allah mengutus malaikat khusus untuk mengawasi ucapan kita, baik hasil lisan kita maupun ketikan jari-jari kita di media sosial.

? ? ? ? ? ? ? ?

“Tiada suatu kalimat pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf :18)

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ?



Khutbah II


? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Alif Budi Luhur


Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Ahlussunnah, Internasional Ceramah Felix Siauw Lengkap

Kiai Said: Pendirian Masjid Istiqlal Digagas KH Wahid Hasyim

Jakarta, Ceramah Felix Siauw Lengkap. Masjid Istiqlal sebagai masjid nasional kerap menjadi destinasi warga Indonesia bahkan tamu kenegaraan dari luar negeri. Tercatat, Presiden AS 2004-2016 Barack Obama dan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz Al-Saud menyempatkan diri menyambangi masjid yang terletak berdampingan dengan Gereja Katedral ini saat mengadakan kunjungan diplomatik.

Kiai Said: Pendirian Masjid Istiqlal Digagas KH Wahid Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Pendirian Masjid Istiqlal Digagas KH Wahid Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Pendirian Masjid Istiqlal Digagas KH Wahid Hasyim

Di balik kemegahannya, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengungkap sejarah pendirian Masjid Istiqlal. Hal ini ia jelaskan saat memberikan pidato dalam peringatan Harlah ke-71 sekaligus pelantikan Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU periode 2016-2021, Selasa (28/3) di Masjid Istiqlal.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini menerangkan bahwa pendirian Masjid Istiqlal berkat gagasan putra Hadltraussyekh KH Hasyim Asy’ari, yaitu KH Abdul Wahid Hasyim pada tahun 1950.

“Istiqlal dibangun atas idenya KH Wahid Hasyim tahun 1950. Ia usul kepada Presiden Soekarno, dinamakan Al-Istiqlal, masjid kemerdekaan,” ungkap Kiai Said di hadapan sekitar 23.000 anggota Muslimat NU dari sejumlah daerah yang membanjiri Istiqlal.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Atas ide KH Wahid Hasyim saat itu, kata Kiai Said, Bung Hatta mengusulkan lokasi pembangunannya di Bundaran HI, lalu Bung Karno punya usul di tempat sekarang ini. Akhirnya dibuat dan tahun 1978 diresmikan. Pembangunanannya menghabiskan biaya Rp 7 miliar.

Tantangan Muslimat

Usai melantik PP Muslimat NU, Kiai Said menekankan pentingnya perjuangan Muslimat yang harus senantiasa dijaga dengan melakukan berbagai inovasi dan gagasan. Kiai asal Kempek, Cirebon ini menegaskan bahwa khidmah Muslimat bukan hanya dalam keagamaan, tetapi juga harus membangun peradaban.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

“Tantangan Ibu Khofifah tidak mudah. Bukan hanya berupaya menjaga akidah dan syariat, tetapi tsaqafah dan hadharah,” ujar Guru Besar Ilmu Tasawuf ini.

Ia menjelaskan, Tsaqafah adalah perjuangan yang mencakup kemajuan intelektual dan ilmu pengetahuan, sedangkan hadharah bermakan menjalankan perkara dunia dengan sebaik-baiknya. Dua-duanya harus dipadukan agar dapat mewujudkan kehidupan yang lebih baik.?

"Jika dua-duanya maju, dinamakan tamaddun, orangnya muttamaddin. Cita-cita kita adalah membangun masyarakat yang maju di bidang tsaqafah dan hadharah," jelas Kiai Said.

Lebih rinci ia menerangkan, Tsaqafah harus cerdas, pandai, dan berpendidikan. Tanpa semua itu, tidak mungkin maju. Ia menegaskan bahwa Nahdliyin harus mencapai target menjadi NU yang intelek sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad dan berperan di segala bidang.

“Muslimat NU harus cerdas dan pinter. Selain harus mengedepankan sikap tasamuh (toleran). Mengapa kita dihormati orang lain? Karena warga NU selalu mengedepankan sikap tasamuh,” tegasnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Nahdlatul, Meme Islam Ceramah Felix Siauw Lengkap

Konvoi 1000 Sepeda Gowes Meriahkan Pra-Konfercab NU Jombang

Jombang, Ceramah Felix Siauw Lengkap - Sedikitnya sekitar 1000 peminat sepeda gowes dari berbagai komunitas di Jombang ikut memeriahkan kegiatan pra-Konfercab NU di Kota Santri ini. Kegiatan yang dinamai Sepeda Santai ini bertempat di lapangan Universitas Hasyim Asyari (Unhasy) Tebuireng Jombang sebagai titik tolak dan titik finish sekaligus.

Ketua Pelaksana kegiatan Muzadi menyebutkan latar belakang diselenggarakannya kegiatan ini. Menurutnya, selain untuk menyemerakkan Konfercab yang akan berlangsung di Pesantren Tebuireng pada 22-23 April ini, juga sebagai upaya untuk mengajak masyarakat mencintai olahraga sepeda gowes.

Konvoi 1000 Sepeda Gowes Meriahkan Pra-Konfercab NU Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Konvoi 1000 Sepeda Gowes Meriahkan Pra-Konfercab NU Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Konvoi 1000 Sepeda Gowes Meriahkan Pra-Konfercab NU Jombang

"Intinya kita ini ingin menyemerakkan Konfercab, di samping itu agar masyarakat khususnya di Jombang mulai membiasakan olahraga dengan sepeda," ujarnya kepada Ceramah Felix Siauw Lengkap di lokasi kegiatan, Ahad (16/4).

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Salah seorang pengurus GP Ansor Jombang ini menambahkan, minat bersepeda gowes akhir-akhir ini mulai berkurang. Berkembangnya teknologi dengan munculnya beragam alat olahraga yang serba instan membuat kebanyakan masyarakat beralih pada produk baru.

"Sekarang ini memang sudah mulai berkurang, disebabkan banyak produk-produk baru yang digunakan untuk berolahraga," tambahnya.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Jika olahraga dengan beragam cara tradisional ini tidak mulai ditonjolkan kembali, maka dikhawatirkan seseorang yang sudah berusia lanjut atau dari kalangan ekonomi menengah ke bahwa tidak dapat berolahraga karena masalah ekonomi untuk memperoleh alat-alat olahraga modern.

"Ini bahaya, sementara mayoritas yang sebenarnya butuh olahraga intensif adalah orang-orang yang sudah tua," ujarnya.

Karenanya, momentum pra-Konfercab dengan gelaran kegiatan tersebut dianggap tepat untuk mulai mengembalikan minat olahraga gowes ini yang dapat dilakukan oleh semua kalangan. "Dari berbagai kalangan, semua ikut, dan bisa melakukannya (bersepeda gowes, red)," tuturnya.

Sementara itu, kegiatan ini juga menyediakan berbagai hadiah bagi peserta gowes yang beruntung. Hadiah diperoleh dari sejumlah kupon yang dibeli sebelumnya sebesar 5000 rupiah yang kemudian diundi saat semua peserta gowes mencapai finish. Beberapa hadiah di antaranya puluhan sepeda polygon, kipas angin, televisi, alat masak, dan lain-lain. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Doa, Khutbah, Pemurnian Aqidah Ceramah Felix Siauw Lengkap

Qabdlu Haqiqi dan Qabdlu Hukmi dalam Fiqih Transaksi Modern

Akad jual beli merupakan sebuah akad yang berujung pada perpindahan status kepemilikan dan kuasa atas barang/aset dari seorang penjual kepada pembeli. Dalam literatur fiqih klasik, salah satu syarat jual beli yang wajib ada adalah al-qabdlu (penerimaan aset). Tanpa al-qabdlu, maka ulama kalangan Syafi’iyah sepakat bahwa jual beli tersebut tidak sah. 

Namun seiring perkembangan zaman, dengan objek material barang yang dijual berbeda-beda segi intensitas dan kuantitasnya, maka para ulama berbeda pendapat terkait dengan status kepemilikan barang sebelum atau sesudah qabdlu.

Qabdlu Haqiqi dan Qabdlu Hukmi dalam Fiqih Transaksi Modern (Sumber Gambar : Nu Online)
Qabdlu Haqiqi dan Qabdlu Hukmi dalam Fiqih Transaksi Modern (Sumber Gambar : Nu Online)

Qabdlu Haqiqi dan Qabdlu Hukmi dalam Fiqih Transaksi Modern

Menurut madzhab Maliki, perpindahan hak milik terjadi apabila pembeli sudah memiliki hak kuasa dalam memanfaatkan barang/aset meskipun belum ada unsur qabdlu. Masih menurut Malikiyyah, barang atau aset di sini bersifat tidak terbatas mencakup ‘aqar (barang tak bergerak, seperti sawah, tanah, kebun, dll), atau manqul (barang bergerak). Namun, madzhab Hanbali, mensyaratkan secara mutlak bahwa terjadinya perpindahan kepemilikan dimulai saat pembeli sudah qabdlu (menerima aset) sebelum ia memanfaatkannya. Perbedaan ini membawa imbas terhadap persoalan furu’ nantinya. Di kalangan Syafi’iyah sendiri, al-qabdlu ini menjadi salah satu syarat mutlak sahnya jual beli. 

Apa sih qabdlu itu?

Dari sudut terminologi bahasanya, qabdlu bermakna memegang atau menggenggam. Sinonim dari qabdlu dalam istilah fiqih adalah naqd, munajazah, hiyazah, yadd, yadd bi yadd, haq wa haq, qada’ wa iqtida’. Namun menurut istilah, sebagaimana disampaikan oleh Ibnu al-Jauzi dalam al-Qawanînu al-Fiqhiyyah: 328, al-qabdlu adalah:

Ceramah Felix Siauw Lengkap

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Artinya: “Kepemilikan atas aset atau hak pakai atas suatu aset, yang diterima baik dengan jalan langsung serah terima tangan, atau dengan ketiadaan penghalang untuk menguasainya.”

Dengan kata lain, bahwa al-qabdlu adalah penguasaan atas aset oleh pembeli yang menyebabkan ia berhak untuk melakukan tindakan hukum terhadap aset tersebut, seperti tasharruf, menjual, dan lain-lain, serta menerima manfaat atau menanggung risiko akibat dari kepemilikannya.

Seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, praktik jual beli juga turut mengalami pengaruh. Semula praktik jual beli hanya bisa dilakukan dengan jalan bertemu langsung antara penjual dan pembeli, atau melalui perantara wakil penjual atau wakil pembeli, namun saat ini media jual beli sudah berkembang melalui media online, atau media lain yang sejenis, seperti misalnya Bursa Efek Indonesia, yang di dalamnya objek jual beli mengalami perubahan.

Jika pada masa awal disampaikannya risalah kenabian, praktik jual beli langsung bisa dilakukan dengan media uang dan barang, atau melalui praktik barter dengan objek barang berupa barang konkret (dhahir). Namun di era sekarang, jual beli dilakukan melalui objek berupa surat berharga, dokumen, nota, cek, dan lain-lain. 

Melihat adanya perubahan objek barang yang dijual berbeda dengan objek awal risalah, maka kemudian para fuqaha’ mengelompokkan jual beli menjadi dua, yaitu bai’ haqiqi dan bai’ hukmi. Penerimaan hak kuasa barang juga dilakukan melalui dua cara yaitu qabdlu hakiki dan qabdlu hukmi. Dalam Keputusan Majma’ al-Fiqh al-Islam Nomor 53 dengan menukil pendapatnya Syeikh Wahbah Al-Zuhaili, disampaikan bahwa:

? ? ? ? ? ? ? ?:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Al-Qabdlu dalam perdagangan surat berharga, ada kalanya haqiqi (legal ownership), dan ada kalanya hukmi (beneficial ownership). Al-qabdlu al-haqiqi adalah sempurnanya perpindahan kepemilikan barang secara tradisional melalui jalan menyentuh, menerima dengan tangan, menakar, menimbang suatu makanan, memindah atau membawa kepada penguasaan pembeli. Sementara al-qabdlu al-hukmi adalah segala sesuatu yang menyatakan terjadinya perpindahan hak milik atau hak kelola aset menurut ‘urf yang berlaku tanpa keterlibatan unsur tangan atau penerimaan tradisional.”

(Baca: Ijtihad untuk Perbankan Syariah pada Kasus Bai’u Hukmi dan Qabdlu Hukmi)

http://www.nu.or.id/post/read/84854/ijtihad-untuk-perbankan-syariah-pada-kasus-baiu-hukmi-dan-qabdlu-hukmi

Dalam ta’rif modern menurut kalangan ekonom, qabdlu haqiqi diistilah sebagai kepemilikan penuh/sah dan diakui oleh undang-undang yang berlaku, yang disertai dengan pindah nama secara resmi di atas dokumen hak milik. Sementara qabdlu hukmi, sering mereka istilahkan sebagai beneficial ownership. Status aset lewat qabdlu hukmi ini hampir serupa dengan qabdlu haqiqi, namun ada beberapa perbedaan khusus di sana. 

Sebagai contoh untuk qabdlu haqiqi, adalah jual beli kendaraan bermotor. Jika seorang pembeli telah membayar kepada pihak dealer sejumlah uang yang disyaratkan, maka ia berhak mendapatkan sepeda motor tersebut, dengan surat kuasa sah atas kepemilikan yang diakui oleh negara.

Adapun contoh mudah dari qabdlu hukmi adalah, seorang pelanggan PLN (Perusahaan Listrik Negara), yang mengajukan diri pemasangan listrik di rumahnya. Segala persyaratan sudah dipenuhinya termasuk pembelian alat meteran listrik yang harus dipasang. Status kepemilikan listrik juga atas nama si pelanggan tersebut. Namun, dalam beberapa hak guna, ternyata ia dibatasi oleh PLN, bahwa jika ia tidak mampu membayar listrik, maka pihak PLN bisa memutus listriknya dan sekaligus membawa perangkat tersebut. Status kepemilikan perangkat yang sejatinya sudah atas nama dirinya secara dokumen, namun praktiknya masih menjadi milik PLN. Inilah yang kemudian oleh para fuqaha’ dinamakan dengan istilah qabdlu hukmi atau yang oleh para ekonom istilahkan sebagai beneficial ownership, yaitu kepemilakan atas dasar pemanfaatan. 

Karena status qabdlu hukmi adalah beneficial ownership, asas kemanfaatan, maka biasanya dalam praktik perbankan, istilah ini dipakai untuk transaksi murabahah dengan praktik yang menyerupai qabdlu haqiqi

Apakah qabdlu hukmi ini termasuk yang harus dilaksanakan untuk transaksi dewasa ini?

Dalam keputusan Majma’ Fiqh Islami, dengan nomor keputusan 53 (4/6), disebutkan bahwa untuk beberapa kasus transaksi, demi menjaga kemaslahatan dan menghindar kemudlaratan, qabdlu hukmi sebagai bagian yang wajib untuk dilaksanakan. Adapun pedoman pelaksanaannya adalah ‘urf (adat-istiadat) yang berlaku dalam perseroan/lembaga tersebut. Sebagai contoh, di atas sudah disampaikan untuk kasus PLN. Bagaimana dengan perbankan?

Dalam praktik amaliyah perbankan, kasus jual beli murabahah ini berlaku ketika ada seorang nasabah hendak melakukan pinjaman ke bank. Karena akad mudayyanah dapat mengurangi modal, dan bank syariah tidak berhak menarik bunga kepada nasabah, maka dilakukanlah akad murabahah melalui jual beli dengan akad tawarruq, bai’u al-‘uhdah, atau bai’ bi al-syarth seperti kasus transaksi REPO sebagaimana yang telah dijelaskan terdahulu. Kepemilikan nasabah atas suatu barang, diterimakan secara dokumen, dan penjualannya dipercayakan kepada bank melalui via dokumen pula. Selanjutnya, Nasabah menerima hasil penjualan via transaksi di atas dokumen tersebut, dalam rupa kredit barang yang harus ia angsur sebagai perjanjian yang dilakukannya dengan Bank dan Bank dengan Dealer yang dipercaya oleh Bank. 

Wallahu a’lam



Muhammad Syamsudin, pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh PP Hasan Jufri Putri P. Bawean, Kab. Gresik, Jawa Timur

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Budaya Ceramah Felix Siauw Lengkap

Domba Ketujuh

Kira-kira pukul 08.30, setelah shalat Iedul Adha, orang-orang berkumpul di halaman masjid yang lapang. Mereka akan menyaksikan penyembelihan tujuh ekor domba jantan yang bagus dan seekor kerbau gemuk yang diserahkan beberapa orang kaya kepada DKM.

Anak-anak yang berpakian bagus-bagus berkumpul di sekitar halaman. Mereka bermain sesukanya. Tawa bahagia berderai. Mereka ingin menyaksikan darah yang mengalir deras dari tenggorokan, kemudian menyentuh bumi. 

Domba Ketujuh (Sumber Gambar : Nu Online)
Domba Ketujuh (Sumber Gambar : Nu Online)

Domba Ketujuh

Para orang tua juga telah datang. Mereka membawa alat untuk membantu penyembelihan. Mereka telah siap menyaksikan darah yang akan mengalir dari tenggorokan kemudian mencium bumi, lalu ada tubuh yang bergelinjangan sekarat meregang nyawa. 

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Ibu-ibu dengan masih memakai pakaian lebarannya juga telah hadir sambil tak henti-hentinya ngobrol soal apa saja. Anak-anak gadis membentuk kelompok sendiri. Mereka ngobrol soal yang berbeda. Mereka sudah siap melihat darah yang mengalir deras mencium bumi.

Sementara yang akan disembelih seperti tidak tahu-menahu kejadian apa yang akan menimpanya. Kerbau itu tenang-tenang saja memakan rumput hijau yang diletakkan di atas karung. Dia tidak tahu darahnya akan dialirkan hari ini, kemudian sekarat, kemudian dikuliti, kemudian dicincang, kemudian diiris, disate, disemur, dan apa pun namanya. Dia tidak tahu-menahu sama sekali. Dia tidak tahu ini adalah hari terakhirnya. Cuma dia mungkin merasa asing karena ada makhluk lain yang ramai-ramai di sekelilingnya. 

Tujuh ekor domba juga sama seperti itu. Mereka tidak tahu-menahu darahnya akan dialirkan hari ini ke perut bumi. Mereka hanya memakan rumput liar di halaman masjid itu. Kadang-kadang berkeliling mengitari pancung, berusaha melepaskan diri dari tambang pengikat. Tapi tambang itu begitu kuatnya. Sesekali digoda anak-anak, kemudian domba itu mundur, ancang-ancang hendak menanduk. Tapi anak-anak tersebut berhamburan sambil tertawa, meski sedikit cemas.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Matahari bersinar terik. Langit biru cerah tak terhalang awan sedikit pun. Beberapa ekor burung melayang rendah di udara. Angin cuma sepoi-sepoi saja.

Tidak berapa lama kemudian, beberapa orang ahli penyembelihan mendekati kerbau yang asyik merumput. Dengan hati-hati sekali, mereka mampu menggulingkan makhluk itu hingga posisinya memudahkan untuk disembelih. Kerbau itu tak bisa berkutik karena tambang telah meringkusnya. Semakin dia bergerak, semakin tambang itu meringkusnya. Tenaganya sia-sia belaka. Hanya meraung, hendak berdiri. Tapi tak kuasa. Hanya tanduknya dibanting-bantingkan sekenanya.

Seseorang maju ke depan. Rokok yang sudah hampir menjadi puntung, dibuangnya. Dia mencabut golok dari sarungnya menantang cahaya matahari. Mata golok berkilauan. Dia penjagal. Dengan golok terhunus, dia mendekati makhluk yang sudah tak berdaya itu. Seorang kiai siap memimpin doa. Si pemilik kerbau menyaksikan di belakangnya. Orang-orang yang menyaksikan melingkar agak jauh dari kerbau tersebut. Pandangan mereka terpusat pada leher kerbau. Tambang yang meringkus setiap kaki kerbau dipegang kuat-kuat beberapa orang lelaki muda.

Penyembelihan dimulai setelah doa dibacakan. Golok itu melukai tenggorokan sang kerbau. Darah mengalir deras mencium lubang di bawahnya. Dari mulutnya keluar ngorok bercampur darah. Tubuh itu meregang melepas nyawa. Kakinya kejang-kejang beberapa lama. Nafas terakhir habis. Kemudian sekarat, kemudian mati, kemudian dikuliti, kemudian dicincang, kemudian ditimbang, kemudian dibagikan. Kepala dan hatinya dipisahkan buat kiai. Pahanya buat ketua DKM. Pahanya yang satu lagi buat pak kades. Kulitnya buat bedug yang semalam bolong terus-terusan dipukul. Sisanya dibagikan buat mereka yang berhak menerima.

Domba-domba jantan itu pun tak jauh berbeda nasibnya dengan kerbau tersebut. Lehernya dipenggal. Darah mereka mengalir menciumi bumi. Kemudian dagingnya dibagi-bagikan. Kepalanya buat kiai kampung tetangga. Buat bapak kepala dusun. Buat bapak ketua RT, bapak pertahanan sipil, anggota DKM dan sesepuh kampung. Kakinya jadi rebutan. Kulitnya dijual kepada tengkulak kulit yang beberapa hari sebelumnya sudah memesan. Sebagian untuk dimasak waktu itu juga bagi yang bekerja membantu penyembelihan. Sisanya dibagikan buat mereka yang membutuhkan.

Matahari semakin meninggi. Siang semakin panas saja. Penyembelihan terakhir adalah domba ketujuh. Orang-orang sudah kelelahan. Orang-orang yang menyaksikan tidak sebanyak penyembelihan sebelumnya. Pak kiai sudah pegal mulutnya menghembuskan doa-doa. Sang penjagal sudah gonta-ganti. Darah yang berceceran sudah mengental. Seseorang menuntun domba itu ke lubang penyembelihan bekas kawan-kawannya. Domba ketujuh itu tidak berontak sebagaimana domba sebelumnya. Dia pasrah. 

Ketika golok itu akan menggorok lehernya, setelah doa dibacakan, saat setiap pasang mata terpusat pada lehaernya, tiba-tiba dengan lantangnya domba ketujuh itu bicara.

“Sebentar, sebentar, sebelum golok ini menggorok leherku, sebelum darahku jatuh ke tanah, sebelum nyawa ini melayang, sebelum tubuh ini dikuliti, izinkan aku bicara dulu.”

Kontan saja sang penyembelih mundur beberapa langkah menabrak orang-orang yang ada di belakangnya. Orang-orang di belakangnya menabrak orang-orang di belakangnya pula. Orang-orang seragam dalam kekagetan. Orang yang memegang tali pengikat kaki domba itu kabur tunggang-langgang. Matanya terbelalak. Mulutnya ternganga. Tapi ada juga yang tetap diam terkena sihir. Tak bergerak seperti patung kedinginan.

Penyembelih itu terkesiap. Goloknya terlepas hampir mengenai kakinya. Wajahnya kehilangan darah. Dia hampir saja kabur kalau beberapa orang tidak menceghnya. Nafasnya sengal-sengal seperti baru saja dikejar setan. Keringat sebesar biji-biji jagung keluar dari mukanya yang kehitaman.

Beberapa saat mereka adalah patung. Mereka masih tak percaya akan mata dan pendengarannya masing-masing. 

Kemudian, mereka saling bertanya atas kejadian itu, dan kemudian saling tidak tahu jawabannya. Di antara mereka ada yang mengusulkan untuk membatalkan pemyembelihan domba ketujuh.

“Bagaimana kiai, apakah penyembelihan ini akan dilanjutkan?” tanya seseorang di sampingnya yang merupakan ketua DKM.

Pertanyaan ketua DKM itu memecah keheningan kiai. Dia mengusap keringat di wajahnya beberapa kali dengan sorbannya. Mulutnya mengucap istighfar. Tapi dia belum menjawab pertanyaan itu seolah tidak tahu apa yang harus dikatakan dan dilakukan. Dia menghela nafas dalam-dalam.

“Wahai manusia, kenapa kalian keheranan mendengarku bicara? Tidak ada yang luar biasa bagi-Nya. Aku hanyalah seekor binatang yang sudah tak berdaya. Tak perlu diherani apalagi ditakuti. Kejadian ini biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa. Kalau mau disembelih, sembelihlah aku! Itu lebih baik bagiku. Tapi sebelum itu, izinkan aku bicara barang sebentar,” kata domba ketujuh dengan suara lantang dan jelas sehingga setiap telinga dapat mendengarnya.

“Kalau kamu mau bicara, bicaralah! Kami bangsa manusia akan memberikan kesempatan bagimu. Kami siap mendengarnya,” kiai mewakili teman-temannya. Ia mencoba tenang.

“Baik, baik,” kata domba ketujuh, kemudian berhenti sebentar. Tenggorokannya seperti tersedak. “Tapi tolong, tambang yang mengikat leherku dilonggarkan sedikit supaya aku leluasa bicara. Percayalah aku tidak akan kabur. Aku tidak akan ngamuk. Kematian adalah hal yang biasa saja,” katanya lagi.

Beberapa orang, meski ragu-ragu, segera melonggarkan tambang pengikat leher domba ketujuh. Canggungnya sedikit demi sedikit berkurang.

“Begini, bangsa manusia,” kata domba tersebut sambil tetap dalam posisi untuk disembelih. Sementara tubuh dan keempat kakinya masih diringkus. “Sebelum nafas terakhirku habis, nyawaku hilang melayang-layang, darahku mencium bumi, tubuhku dikuliti, dagingku dicincang diiris-iris kemudian kalian masak dengan berbagai macam cara dan selera. Aku rela. Aku ikhlas. Karena itu garis takdir yang dituliskan atas diriku. Tapi sebelum semua itu terjadi, aku punya satu permohonan.’’

“Kalau boleh tahu, apa permohonan terakhirmu itu? Kalau kami mampu, kami bisa mengabulkannya,” kata kiai itu mulai agak akrab. Orang-orang yang menyaksikan pun keheranannya sedikit mencair. Mereka memasang mata dan telinga masing-masing seolah tidak ingin terlewatkan satu huruf pun atas kata-kata domba ketujuh.

“Begini bangsa manusia, sudah kukatakan bahwa aku ikhlas seikhlas-ikhlasnya jika aku dijadikan qurban. Aku rela leherku disembelih, darahku mambasahi bumi, tubuhku dikuliti, dagingku dicincang, aku tidak akan menangis, keluargaku pun tidak akan bersedih karena itu tidak akan berlaku dalam duniaku. Anak-anakku pun tidak akan melakukan balas dendam karena kami tak mengenal itu.”

“Lantas apa maumu?”

“Tapi aku dan kawan-kawanku tak rela sama sekali. Tak rela.”

“Kamu tak mau disembelih?” tanya kiai. “Kalau itu maumu, kami bisa mempertimbangkannya.” 

“Bukan itu permasalahannya.”

“Lantas?”

“Kenapa daging kawan-kawanku dan mungkin juga aku bagian yang banyak hanya dinikmati oleh kiai, ketua DKM, kepala desa, kepala dusun, pak RT, pak pertahanan sipil dan sesepuh kampung? Kenapa mereka yang didahulukan? Mereka itu orang yang berada. Mampu membeli tanpa dibagi. Mereka sering makan daging. Biarkanlah orang-orang miskin, anak-anak yatim, orang-orang jompo menikmati daging lebih banyak setahun sekali. Mereka jarang-jarang makan daging.”

Kiai itu merah mukanya. Kata-kata itu menohok mukanya. Ketua DKM tertunduk. Orang-orang yang mendengar itu berbisik-bisik.

“Sebelum kalian menyembelihku, sembelihlah nafsumu! Sembelihlah hasratmu. Potonglah kerakusanmu! Sembelihlah keangkuhanmu. Penggaallah kesombonganmu. Potonglah keserakahanmu!”

Sekarang, orang-orang itu kembali terdiam. Mereka seperti makhluk tanpa suara.

"Kenapa kalian bengong? Sembelihlah aku! Sembelihlahlah aku! Aku ingin segera menghadap-Nya. Menyusul teman-temanku"

Semuanya diam.

"Baiklah kalau kalian tidak mau menyebelihku, biarlah aku yang akan menyembelih diriku sendiri, mencincang sendiri, dan biarlah aku membagikannya ke faqir miskin, anak yatim, orang-orang jompo. Aku tidak mau merepotkan kalian...."

Sukabumi, 2004

 

ABDULLAH ALAWI, lahir di Sukabumi, Jawa Barat.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Pahlawan, Kajian Islam Ceramah Felix Siauw Lengkap

MWCNU Pringsewu Siap Menjadi Percontohan Organisasi Sehat

Pringsewu, Ceramah Felix Siauw Lengkap

Majelis Wakil Cabang NU Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu, Lampung, mendapat giliran visitasi Tim PCNU Kabupaten Pringsewu, Ahad (12/6), dalam rangka Penilaian Lomba MWCNU dan Ranting NU sehat. Kegiatan ini dilaksanakan di kantor kesekretariatan MWCNU setempat yang berlokasi di Desa Waluyojati, Kecamatan Pringsewu.

MWCNU Pringsewu Siap Menjadi Percontohan Organisasi Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Pringsewu Siap Menjadi Percontohan Organisasi Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Pringsewu Siap Menjadi Percontohan Organisasi Sehat

Sebelum dilakukan penilaian, dalam visitasi yang dirangkai dengan kegiatan Safari Ramadhan ini, seluruh pengurus MWCNU dan pengurus Ranting NU se-Kecamatan Pringsewu mendapat pengarahan dari Ketua PCNU Pringsewu H Taufiqurrohim yang menyampaikan beberapa hal terkait penguatan organisasi.

Dalam pengarahannya, Taufiq mengingatkan kepada seluruh pengurus di seluruh tingkatan untuk berkhidmah di NU tanpa pamrih. "Banyak PR yang harus dikerjakan dalam berkhidmah di NU. Lakukan dengan ikhlas dan jangan berharap RP," jelasnya disambut senyum para pengurus MWCNU dan 15 Ranting yang ada.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Hal ini senada dengan Sekretaris MWCNU Pringsewu Mustanir. Di sela sela penilaian administrasi kantor, ia dan seluruh pengurus NU di Kecamatan Pringsewu siap untuk berkhidmah membesarkan NU tanpa pamrih. "Meski tidak ada imbalan materi kami akan siap dan akan menjadikan MWCNU Pringsewu jamiyyah yang sehat," tegasnya.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Keseriusan ini ditunjukkan dengan persiapan yang matang dalam perlombaan MWCNU Sehat. "Dari sisi administrasi, alhamdulillah sudah terlihat tertib dan dari sisi kegiatan atau program kerja kami sudah melaksanakannya," jelasnya.

Ia berupaya semaksimal mungkin untuk tahun 2016 ini MWCNU Pringsewu akan mampu mendapat predikat sebagai MWCNU terbaik dari 9 MWC NU lain di Kabupaten Pringsewu.

Selain pengurus MWCNU dan seluruh Ranting NU, hadir juga pada kesempatan tersebut ketua banom dan lembaga NU di Kecamatan Pringsewu. Suasana kegiatan lebih khidmah dengan diisi tahtimul qur’an oleh setiap pengurus yang hadir. (Muhammad Faizin/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Anti Hoax, Internasional, Hadits Ceramah Felix Siauw Lengkap

Sabtu, 27 Januari 2018

Waketum PBNU: Tularkan Model Pengorganisasian yang Baik di NU

Jakarta, Ceramah Felix Siauw Lengkap. Wakil Ketua Umum PBNU, Drs KH Slamet Effendy Yusuf menilai, Lakpesdam NU sebagai salah satu lembaga dengan pengorganisasian yang cukup baik di NU. Sehingga dia mendorong agar model pengorganisasian tersebut bisa ditularkan ke lembaga dan banom NU yang lain.

“Jangan sebaliknya, hanya untuk dirinya sendiri. Hal ini juga dalam rangka mewujudkan sinergitas yang baik di antara lembaga dan banom NU,” ujar Slamet saat memberi sambutan dalam acara serah terima kepengurusan PP Lakpesdam NU dari yang lama ke yang baru, Sabtu (10/10) di kantor PP Lakpesdam, Jl Haji Ramli, Tebet, Jakarta Selatan.

Waketum PBNU: Tularkan Model Pengorganisasian yang Baik di NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Waketum PBNU: Tularkan Model Pengorganisasian yang Baik di NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Waketum PBNU: Tularkan Model Pengorganisasian yang Baik di NU

Slamet juga menyampaikan, dulu Lakpesdam didirikan oleh Gus Dur, dan kawan-kawan untuk memenuhi dan mewujudkan sumber daya manusia yang handal di tubuh NU untuk mengawal Khittah NU 1926 sebagai jati diri organisasi.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Visi Gus Dur, dan kawan-kawan ini dinilai penting, katanya, karena selain melakukan pendidikan politik yang baik untuk warga NU, juga agar Lakpesdam dan lembaga serta banom NU tidak terpengaruh oleh arus politik yang tidak baik untuk keadilan dan kesejahteraan umat.

“Program Lakpesdam yang sudah berjalan dalam menggerakkan NU dari tingkat bawah, perlu memiliki fokus yang tepat sehingga mampu menciptakan SDM yang mumpuni untuk menggerakkan NU,” jelasnya.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Dia juga mengutarakan, agar Lakpsedam mempunyai semacam database yang memuat SDM di NU supaya ketika PBNU membutuhkan kadernya untuk mengisi di bidang tertentu, lebih mudah untuk mencarinya. Hal ini juga dalam rangka menginventarisir potensi untuk mengurus NU ke arah yang lebih baik.

“Dan saya perlu tegaskan, Lakpesdam didirikan agar gerak NU sesuai dengan perkembangan zaman melalui berbagai kajian yang dilakukan. Sebab itu, kembangkan Lakpesdam sesuai zamannya, posisikan di tempat lebih strategis untuk menggerakkan NU,” pungkasnya.

Acara serah terima ini juga dihadiri Wakil Sekjen PBNU, H Imam Pituduh, Sekretaris PP Lakpesdam, Dr H Marzuki Wahid, Dr Ahmad Suaedy, Ala’i Nadjib, MA, Dr Khamami Zada, Dr Dadi Darmadi, dan jajaran pengurus PP Lakpesdam lainnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Jadwal Kajian, Kajian Sunnah Ceramah Felix Siauw Lengkap

Doakan Arwah Wali, Warga Tanggulangin Gelar Tradisi Nyadran

Semarang, Ceramah Felix Siauw Lengkap. Warga masyarakat RW 6 kelurahan Banjardowo, Genuk, Semarang mengelar pengajian dan ritual Nyadran yang sudah menjadi tradisi warga setempat khusunya daerah Tanggulangin Banjardowo. Pengajian dan Nyadran ini berlangsung di area makam Ibrahim Fatah di Tanggulangin, Kamis (29/5) malam.

Menurut Ketua RW 6 Suparjo, kegiatan Nyadran dan pengajian di makam Wali Ibrahim Fatah merupakan progam yang diselenggaakan setiap tahunnya. Dalam setahun ada dua kegiatan besar, haul Ibrahim Fatah yang jatuh setiap bulan Syuro dan ritual Nyadran.

Doakan Arwah Wali, Warga Tanggulangin Gelar Tradisi Nyadran (Sumber Gambar : Nu Online)
Doakan Arwah Wali, Warga Tanggulangin Gelar Tradisi Nyadran (Sumber Gambar : Nu Online)

Doakan Arwah Wali, Warga Tanggulangin Gelar Tradisi Nyadran

“Pada bulan Rajab ini, ritual itu dimaksudkan untuk mendoakan para arwah wali. Untuk paginya, ritual nyadran diperingati dengan pemotongan kambing dan makan bersama warga,” lanjutnya.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Pengajian ini menghadirkan KH Abdullah Badada dari Semarang sebagai penyampai taushiyah. Kata Kiai Abdullah, “Ada empat bulan utama. Salah satunya bulan Rajab yang mesti dimuliakan dengan banyak belajar sebab sekarang ini banyak akidah tersasar.”

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Guru ngaji, sambung Kiai Abdullah, tidak bisa dilihat sekadar dari penampilan fisiknya seperti jenggot dan sorban. Tetapi lebih kepada keluasan ilmu. (Lukni Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Syariah Ceramah Felix Siauw Lengkap

Kisah TNI Pengabdi Pergi Umrah Gratis

Grobogan, Ceramah Felix Siauw Lengkap. Rabu (12/3), Ceramah Felix Siauw Lengkap telah menelisik kegiatan belajar mengajar yang dilakukan anggota TNI AD  yang bernama Rohmi Abdul Halim di Madrasah Diniyah Al-Hidayah Dusun Plumbungan, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Kali ini, Rohmi berbagi kisah setelah mengabdi di Madrasah Diniyah. Pada tahun 2013, Sersan Kepala ini mendapat surat  perintah dari Komandan Kodim 0717 Purwodadi. Isinya menyatakan ia beserta tiga rekannya diminta mengikuti tes seleksi umroh sebagai bentuk penghargaan Kepala Staf Angkatan Darat di Kantor Pembinaan Mental Kodam IV/ Dip.

Kisah TNI Pengabdi Pergi Umrah Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah TNI Pengabdi Pergi Umrah Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah TNI Pengabdi Pergi Umrah Gratis

Dalam hati, ia sangat berharap bisa menziarahi makam Rasulullah yang diidam-idamkan sebelumnya. “Tes seleksi tersebut terbilang ketat. Berbagai  macam materi diujikan, diantaranya baca tulis Al-Qur’an, tajwid, praktek mengurus jenazah, khotbah Jum’at, memimpin tahlil serta pidato,” terang TNI AD tersebut.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Saat seleksi, lanjut Rohmi, tim penguji bertanya kepada saya “Kok dalam hal membaca dan praktek, Anda terlihat santai dan tak tergesa-gesa? Apakah Anda pernah nyantri di pesantren?”

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Rohmi menjawab “Ya, saya pernah nyantri di Pesantren Al-Anwar, asuhan KH Maimun Zubair,” terang tentara yang memiliki garis bengkok berwarna kuning di lengan bajunya tersebut.

Saat itu tim penguji, tambah Rohmi, menilai secara transparan di papan tulis yang berada di hadapan 150 anggota TNI yang mengikut seleksi. “Dari Jateng, tiga orang yang berhasil lulus seleksi, satu diantaranya adalah saya. Saat itu, tak terbendung lagi kegembiraan untuk pergi baitullah dan menziarahi makam Rasulullah,” ungkapnya.

“Alhamdulillah, saat itu bisa lulus seleksi dengan nilai yang sangat memuaskan. Semua ini merupakan berkah dalam memperjuangkan agama dan negara, terlebih berkah doa dari para kiai dan guru-guruku di ponpes Al-Anwar,” tuturnya.

Istiqamah sebarkah ilmu

Selain mengajar di Madrasah Diniyah, anggota TNI ini sering diminta memberikan khotbah Jum’at secara bergilir dengan para kiai kampung di desa tempat ia tinggal. Selain itu, Sepulangnya dari tanah suci, ia diminta untuk selalu mengisi ceramah-ceramah di kantor kemiliteran pada hari-hari besar islam. Bukan hanya itu, setiap ada seleksi umroh, ia diminta untuk memberikan pembekalan mengenai materi terkait dengan ibadah umroh.

Di akhir perbincangan, ia berharap supaya apa yang ia lakukan benar-benar memberikan manfaat baik  bagi diri pribadi, agama dan negara. “Selain itu, saya berdoa supaya bisa istiqamah menjalani amanah ini,” pungkasnya. (Asnawi Lathif/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Hadits, Kajian Islam Ceramah Felix Siauw Lengkap

Jumat, 26 Januari 2018

Menghujat dan Mencaci-maki Ulama

Oleh: Ahmad Naufa Khoirul Faizun



Dewasa ini di media sosial banyak lahir penghujat dan penista baru. Dan yang mereka hujat bukanlah orang sembarangan, melainkan orang-orang yang berpengaruh, seperti ulama dan presiden. Sebagai contoh, Kiai Said Aqil Siroj dihujat dengan tuduhan fatwa-nya karena duit, Prof Quraish Shihab dituduh Syiah dan Gus Mus dihina dengan umpatan yang, tak tega saya menulisnya di sini. Belum lagi, orasi Ahmad Dhani yang menghujat presiden, pemimpin 255 juta rakyat Indonesia, dengan umpatan yang sungguh mengerikan.

Menghujat dan Mencaci-maki Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Menghujat dan Mencaci-maki Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Menghujat dan Mencaci-maki Ulama

Tak hanya itu, KH Maemoen Zubair, atau yang akrab disapa Mbah Moen, ulama sepuh yang dikenal alim, dihormati jutaan umat dan dijuluki "kitab kuning berjalan," pun tak luput dari sasaran umpatan. Padahal, banyak kiai yang menyebut bahwa Mbah Moen adalah "paku bumi" Nusantara hari ini. Tak hanya dalam negeri, ulama-ulama luar negeri pun mengakui. Beliaulah yang "menjaga" keberlangsungan ajaran Rasulullah, ditengah ulama-ulama alim yang sudah menghadap ke hadirat Ilahi Rabbi.?

Umpatan, celaan, hinaan dan nistaan itu sesungguhnya adalah bentuk ketidakmampuan memahami apa itu yang disebut kritikan dan apa itu hujatan. Kritikan, adalah koreksi atas perilaku, tindakan atau kebijakan seseorang dengan argumen yang ilmiah dan logis, dengan bahasa yang santun, konstruktif dan proporsional. Hal ini beda dengan umpatan, celaan, hinaan dan nistaan, yang menilai sesuatu atas dasar kebencian, kata-kata kasar dan tidak dengan argumen logis dan ilmiah. Umpatan dan sejenisnya itu merupakan ketidakmampuan seseorang melawan dengan terhormat, kecuali dalam keadaan yang genting dan menyakitkan menghadapi musuh, semisal dalam perang dan penindasan.

Kebebasan di alam demokrasi, selain membawa kita masyarakat Indonesia menuju kebebasan berpikir, bukan berarti tanpa ancaman. Kebebasan itu disalahpahami dengan hak untuk melakukan apa saja: bicara, menulis dan bertindak semau-maunya. Padahal menurut Emha Ainun Nadjib, kebebasan adalah kemampuan untuk memahami batasan. Seperti halnya mutiara kata Arab, yang sering disampaikan guru saya KH Achmad Chalwani: hurriyatul mari mahduudun bi hurriyati ghairih; kebebasan seseorang itu dibatasi oleh kebebasan orang lain.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Seiring dengan cepatnya arus informasi karena globalisasi, hampir tak ada sekat dan jarak di muka bumi ini. Semua orang dapat mengungkapkan apa saja di internet, khususnya media sosial. Hal ini bak pisau bermata dua: mengandung kemanfaatan disatu sisi, juga kemafsadatan di sisi lain. Informasi positif, konstruktif dan mencerahkan bisa menyebar dengan cepat. Namun demikian, hal-hal negatif, dari pornografi, fitnah, agitasi, propaganda, hasutan dan hujatan, tak bisa dibendung. Inilah sebuah zaman, yang meminjam istilah novelis Okky Madasari, membuat iri generasi sebelum kita. Meski demikian, hemat saya, bisa juga hal ini dimaknai sebuah kemuduran, yang membuat generasi dahulu menangis pedih melihatnya.

Seiring meningkatnya ilmu pengetahuan, dengan demokrasi yang kebablasan, orang kini tak lagi bisa membedakan mana roti mana kotoran. Semua manusia dianggap sama. Slogan dan terapan one man one fote dalam demokrasi kita, di satu sisi menegakkan hak setiap orang, namun di sisi lain menyamaratakan "kualitas" seseorang. Padahal tetap saja ada perbedaannya. Nabi Muhammad memang manusia seperti halnya kita, tetapi ia juga bukan manusia biasa. Ibarat ia adalah batu intan permata, dan kita batu kali biasa. Dan ulama adalah pewaris para nabi, yaitu ulama yang benar-benar mengikuti akhlak nabi.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Media adalah legitimasi yang ampuh di jaman demokrasi liberal. Siapa pun yang tampil di televisi dan bisa sedikit dalil atau motivasi, langsung dipanggil ulama atau minimal ustadz dan ustadzah. Untuk dianggap ustadz di media, mesti menjadi preman dulu, mesti non-muslim yang belakangan masuk Islam, baru kemudian publik memiliki ketakjuban dan perhatian. Sedangkan kiai-kiai dan ribuan orang alim yang lahir dari pergulatan kitab-kitab bertahun-tahun, dan lahir dari rahim masyarakat, karena tidak dilegitimasi televisi misalnya, tidak diakui sebagai ulama. Di media, kebenaran dianggap ucapan siapa pun yang sesuai dengan yang mereka suka. Bahkan, umpatan dan celaan bisa datang dari seorang anak ingusan kepada para pemimpin negeri dan ulama.

Di tengah kebenaran yang serba kabur ini, kita perlu kembali berpegang kepada akhlak nabi, yang sebagian tercermin pada akhlak para ulama – yang benar-benar ulama – meski ia jarang tampil di media. Kita perlu mengingat kembali, visi nabi diutus ke dunia: menyempurnakan akhlak manusia (liutammima makaarimal akhlak). Jika kita belum bisa jadi orang alim, minimal kita cinta dengan orang alim. Jika kita belum bisa menjadi orang yang shaleh, minimal kita cinta dengan orang shaleh. Jika kita belum mampu menjadi orang berakhlak, minimal kita cinta dengan orang yang berakhlak. Bukan justru menghujatnya, menghinanya, mencacinya, dengan kata-kata kasar yang melukai umatnya.

Kita boleh tak sepakat dengan siapapun, kepada tokoh, ulama, nabi, bahkan Allah pun boleh untuk tidak disepakati, dengan membebaskan manusia memilih agama sesuai kehendaknya. Namun ketidaksepakatan itu bukan berarti boleh untuk tidak menghormatinya, apalagi mencelanya. Semua manusia harus dihormati sebagai manusiannya, dan boleh tidak disukai perilakunya. Mengkritik seseorang, tokoh, ulama, perlu dengan argumen yang logis serta dengan santun agar tidak dosa, yaitu ketika melukai hatinya. Jika asal misuh, mengumpat, mencerca, itu bukan kritikan tetapi penghinaan. Padahal, Allah SWT, Sang Pencipta sendiri berfirman: Walaqad karramna baani Aadam; sungguh kami (Allah) memulyakan anak keturunan Adam (QS. Al-Isra:70). Jika Sang Penciptanya saja menghormati manusia – ciptaan-Nya – waraskah kita jika saling mencela sesama manusia?





Ahmad Naufa Khoirul Faizun adalah Santri Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo dan Wakil Ketua PW IPNU Jawa Tengah (2013-2016).

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Makam Ceramah Felix Siauw Lengkap

Kajian Penerapan Adat pada Masyarakat Muslim Indonesia

Oleh? Siti Rahmawati

Konflik perdata di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Berdasarkan data Mahkamah Agung tahun 2011, sengketa perkawinan mencapai 504 atau 75,22 persen, ? waris 20 persen, hibah 1, 79 persen, wakaf ? 0,30 persen, dan istbat nikah 0,30 persen. Dari data tersebut sengketa perkawinan menduduki jumlah terbanyak, hal ini didukung oleh hasil penelitian bahwa konflik terbanyak terjadi dalam perkawinan. Oleh karena itu, manajemen konflik yang tepat diperlukan dalam menjawab permasalahan ini. Resolusi konflik yang tepat mengantarkan pada hubungan sukses sebaliknya resolusi konflik yang gagal berakibat putusanya hubungan (Felicia Ohwovoriole: 2011).?

Secara teoritis, penyelesaian konflik atau sengketa dapat diperoleh dari dua proses, pertama proses litigasi dalam pengadilan, kedua proses non-litigasi yang dilaksanakan di luar pengadilan. Pada tataran praktik, non-litigasi dewasa ini diperankan oleh lembaga-lembaga adat dengan hukum adatnya.?

Kajian Penerapan Adat pada Masyarakat Muslim Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kajian Penerapan Adat pada Masyarakat Muslim Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kajian Penerapan Adat pada Masyarakat Muslim Indonesia

Terdapat dua pandangan teoritis pihak yang bersengketa memilih menyelesaikan sengketa melalui negosiasi adat (Hifdhotul Munawaroh: 2015). Pertama, pandangan yang merujuk pada kebudayaan sebagai faktor dominan, cara penyelesaian melalui konsensus atau mufakat dapat diterima dan digunakan oleh masyarakat, karena pendekatan itu cocok dengan cara pandang kehidupan masyarakat. Masyarakat mewarisi tradisi kebudayaan yang menekankan nilai keharmonisan dan kebersamaan dalam kehidupan. Kedua, peradilan adat lebih mudah untuk diakses, cepat, murah dan fleksibel. Selaras dengan itu, fokus peradilan adat berusaha melakukan rekonsiliasi dalam menyelesaikan konflik atau sengketa (R.Udphzrun dan Kehinde A Bolaji). Karena pentingnya nilai adat ini, sehingga Simon Fisher mengaskan bahwa untuk menangani konflik secara efektif perlu memahami nilai-nilai sosial, norma-norma, praktik-praktik yang dapat diterima oleh pihak yang terlibat dalam situasi dan lembaga tertentu.

Eksistensi lembaga adat sebagai media resolusi konflik telah dipraktikkan di belahan dunia, termasuk di negara Islam. G.H Bousqet menemukan bahwa Tunisia mengadopsi hukum adat dalam menyelesaikan kasus hak atas tanah dan pengelolaan wakaf. Begitu juga di Libya melegalkan hukum adat sebagai media rekonsiliasi dalam kasus pembunuhan suku Tibawi untuk mendamaikan pihak-pihak yang bersengketa, hal ini juga di praktikkan di Afganistan, hukum adat digunakan dalam menyelesaikan kasus pada daerah-daerah tertentu. Sedangkan di Indonesia menggunakan lembaga adat sebagai media resolusi atas konflik pidana maupun perdata. Hal ini terlihat pada masyarakat etnis dalam menyelesaikan kasus-kasus sengketa pada wilayah masing-masing daerah. Penyelesaian konflik di daerah-daerah masih disandarkan pada hukum adat. Hukum adat lahir sebagai warisan interaksi masyarakat terdahulu (leluhur) yang berfungsi sebagi pranata sosial dan masih dipraktikkan oleh masyarakat. Baik masyarakat yang belum menerima Islam maupun masyarakat yang telah menerima Islam sebagai kepercayaan dan penuntun dalam melaksanakan ibadah ritual masyarakat.?

Masyarakat adat Aceh menggunakan lembaga adat gampong dalam menyelesaikan konflik perkawinan, masyarakat adat angkola di Medan mengenal istilah dalihannatolu yang memiliki wewenang masing-masing, terdiri dari mora (legislatif), anakboru (eksekutif) dan k-ahanggi (yudikatif). Ketiga institusi tersebut berpadu dalam menyelesaikan konflik-konflik termasuk konflik perkawinan, hal ini juga terjadi pada masyarakat (bugis) yang berpegang pada konsep pangangderreng (undang-undang sosial) terdiri unsur adeq (adat-istiadat) dan saraq (syariat Islam). Pampawaadeq dipangku raja sekaligus mengatur roda pemerintahan, sementara pampawasaraq dipangku kadi, imam, khatib, bilal dan doja (penjaga masjid) menangani persoalan yang berhubungan dengan fiqih Islam (Ismail Suardi Wekke). Perpaduan keduanya terlihat dalam penyelesaian kasus kesusilaan (malaweng) di Sulawesi Selatan. Pada situasi yang sama, masyarakat adat Tolaki di Sulawesi Tenggara mengunakan adat Tolaki dalam menyelesaikan sengketa.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Peran adat tersebut jika dikaji lebih jauh sesungguhnya memberi gambaran posisi adat (kultur) dalam menyelesaikan masalah (konflik), mendapat porsi besar di masyarakat. Hal ini merupakan konsekuensi dari pandangan bahwa peradilan adat memiliki falsafah yang dianggap lebih cocok dengan masyarakat adat atau komunitas lokal. Norma-norma adat memiliki kekuatan dalam membentuk pola prilaku masyarakat.

Perdamaian Persfektif Islam

Teori perdamaian menurut Islam bermakna keadilan. ? Keadilan didasarkan atas persamaan hak dan kesempatan bagi manusia untuk mencapai pemenuhan dan mengatasi penindasan. Peneliti perdamaian Islam seperti Qamarul Huda mengartikan perdamaian tidak hanya berhentinya perang, namun lebih bermakna harmoni sosial dan keseimbangan dalam kehidupan, di mana manusia mempertahankan hubungan yang sehat antara dirinya dengan Tuhannya.

Perbedaan dan pertentangan dalam hubungan manusia merupakan natural law (hukum alam), karena Allah menciptakan manusia dengan keragaman warna kulit, ras, bahasa, budaya, pola pikir dan perbedaan kepentingan. Namun demikian, dinamika masyarakat Islam dapat dipersatukan setidaknya dengan lima prinsip dasar.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Pertama, kesatuan (unity), memadukan keseluruhan aspek-aspek manusia, horizontal maupun vertikal. Kedua, keseimbangan (equilibrum), menggambarkan dimensi horisontal ajaran Islam yang berhubungan pada keseluruhan harmoni pada alam semesta. Ketiga, Kehendak bebas (ikhtiyar), manusia diberikan kebebasan dalam melakukan transaksi atau perjanjian. Keempat, pertanggungjawaban, untuk memenuhi keadilan dan kesatuan diperlukan sikap tanggung jawab pada jiwa dan raga, person dan keluarga, individu dan sosial, antara suatu mayarakat dengan masyarakat lain. Kelima kebenaran (kebajikan dan kejujuran). Kebajikan merupakan tindakan yang dapat memberikan keuntungan bagi orang lain.?

Prinsip-prinsip tersebut menurut Alwi Syhab dapat dilaksanakan dengan sikap toleransi dan pluralisme. Toleransi merupakan upaya menahan diri agar potensi konflik dapat ditekan, sedangkan pluralisme dimaksud adalah keterlibatan aktif terhadap kemajemukan, tidak menonjolkan keunggulan-keunggulan dan merasa paling benar kepada pihak lain. Jika ajaran agama diletakan dalam peta kebudayaan, krisis dan konflik yang bermula dari masalah sosial, ekonomi politik maupun keagamaan dapat diuraikan jalan penyelesaiannya. Hal ini senada dengan makna jihad dalam tubuh spiritual Islam, yakni pertempuran batin, melawan kejahatan fikiran dan keinginan terhadap konflik. Dengan demikian, dalam teori perdamaian Islam, konflik dapat diselesaikan jika difokuskan pada moralitas, pluralisme budaya, solidaritas komunal, keadilan sosial dan iman (Uzma Rehman: 2016).

Islam bersifat universal dan mengakomodasi praktik-praktik empiris di masyarakat. Prakatik empiris masyarakat terdiri dari prilaku (model for) menjadi refleksi (model of) dari sistem kepercayaan (system of beliefe), maka ketika terjadi konflik harus kembali pada nilai-nilai primordialistik yang menjadi sistem kepercayaan (system of beliefe). Contohnya, masyarakat Madura mengenal istilah carok dalam membela kehormatan, masyarakat berpegang pada falsafah (ango’a poteya tolang atembang poteya mata) dari pada hidup menanggung malu lebih baik mati membela kehormatan. Jika terjadi konflik terkait kehormatan, maka resolusi konflik yang tepat harus kembali pada nilai-nilai primordialistik masyarakat madura (Thoha Hamim: 2007). Bagi masyarakat adat, penyelesaian konflik secara kekeluargaan merupakan pilahan yang tepat, penyelesaian konflik atau sengketa melalui adat dilaksanakan dengan tujuan mendamaikan kedua bela pihak, masyarakat lebih patuh dan memahami arti dan makna-makna adat dalam kehidupannya.

Adat memiliki sinkronisasi dengan agama Islam, Islam secara terminologis bermakna penyerahan diri, perdamaian dan keselamatan. Oleh karena itu, Islam tidak hanya sebuah agama ? tetapi ia juga terwujud sebagai sebuah peradaban (civilicatioan).

Perdebatan Teoritik; Peran Adat dan Agama sebagai Pranata Sosial

Peran dan keberhasilan lembaga adat dalam menyelesaikan sengketa di masyarakat menunjukkan efektifitas dari mekanisme-mekansime pengaturan masyarakat (self regulation) yang berfungsi sebagai sarana pengendalian sosial (legal order). Kendati demikian, mengkaji penerapan adat di Indonesia seiring berkembangnya Islam menghasilkan pemikiran yang beragam. Teori receptie yang dicetuskan oleh Cornelis Van Vallenhoven menganggap bahwa hukum adat berlaku setelah diresepsi atau diterima oleh hukum adat. Sedangkan Sayyed Husein Nasr mengatakan bahwa pada tataran teori, syariah (divine law)? datang untuk mengatur dan menuntun masyarakat bukan sebaliknya. Manusia tidak berubah secara hakiki, meskipun terdapat perbedaan dari masa Muhammad, naik turunya tetap sama karena itu formulasi syariah tidak membutuhkan pengembangan.?

Sayyed Hossein Naser hendak menegaskan kembali bahwa agama berfungsi sebagai sistem nilai yang memuat norma tertentu. Norma tersebut menjadi kerangka acuan dalam bersikap dan bertingkah laku agar sejalan dengan keyakinan agama yang dianutnya. Pranata sosial masyarakat bagaimana pun bentuknya harus kembali kepada hasil ijtihad ulama-ulama terdahulu.

Abdurrahman Wahid mempunyai pandangan yang berbeda, bahwa adat-istiadat adalah seni hidup (the art of living), mengandung tatanan masyarakat yang patut dipertahankan, masuknya Islam di Indonesia melalui adat dan budaya bukan melalui ekspansi sebagaimana di dunia Arab. Adat istiadat adalah unsur utama sebuah pergaulan sosial, sebuah masyarakat betapa pun sederhananya memiliki nilai-nilai dan norma-norma, norma tersebut terwujud dalam praktik sosial masyarakat. Melihat pergulatan pemikiran-peikiran tersebut, kiranya perlu mengulas kembali, bahwa sejak awal perkembangan Islam sebagai konspesi realitas telah menerima akomodasi sosio-kultural. Meski pada sisi teoritis doktrin Islam seolah berbeda dengan realitas, namun dalam aplikasinya Islam mengakomodasi kenyataan sosial budaya, sebagaimana ahli fiqih mempertibangkan faktor-faktor sosial dalam penetapan hukum pada periode awal Islam.

Kondisi sosial yang diperhadapkan dengan Islam akhirnya menghasilkan apa yang disebut oleh Azyumradi Azra sebagai “varian Islam”, maksudnya Islam dengan berbagai corak dan jenisnya. Terkait dengan itu, asumsi mengenai dogma dan realitas masyarakat yang dipandang sebagai konflik harus diarahkan pada sikap moderat dan toleransi terhadap kondisi dan realitas masyarakat yang terus berkembang.

Masyarakat sebagai pelaku budaya tidak hanya mempertahankan aspek budaya yang pernah dicapai dengan segala dimensinya, namun harus berusaha menghidupkan Islam dengan nilai-nilai ajarannya ke dalam budaya tersebut. Islam universal dan dinamis, tetap memberikan ruang yang cukup pada perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan penemuan-penemuan baru lainnya. Inilah yang dimaksud “moderenizing society”, yakni masyarakat yang mulai mengatur masa depannya, tetapi belum meninggalkan masa lalunya.

Pemikiran ini juga terpancar pada pemahaman terhadap agama, ada yang memandang bahwa agama adalah alat konservatis dan mempertahankan tradisi ada pula yang berpandangan secara aplogetik bahwa agama adalah pendorong kemajuan. Hooker menjelaskan bahwa Islam mempunyai nilai akomodatif terhadap pranata sosial seperti hukum adat tidak saling menyisihkan dan berlaku sejajar pada masyarakat adat Indonesia. Bahkan Syaukani menjelaskan dalam teori interdependensi bahwa semua sistem hukum tidak berdiri sendiri, pembentukannya selalu berinteraksi dengan sistem hukum lainnya.?

Lebih jauh, Jalal al-Din ‘Abd Al-Rahman menjelaskan bahwa adat (‘urf) mempunyai tempat dalam hukum Islam sebagai sumber pengambilan hukum selama tidak bertentangan Al-Qur’an dan Hadits. ‘urf atau ‘adah dapat dihubungkan dengan term hadits dan sunah (tradisi nabi), para ahli hukum Islam memegang prinsip umum bahwa suatu yang dikatakan, diperbuat atau ditetapkan oleh nabi akan membentuk apa yang dikenal dengan sunah, sumber kedua setelah Al-Qur’an. Jadi ‘adah pada masa nabi dapat dipandang sebagai suatu sumber untuk menformulasikan hukum-hukum. Hakikatnya norma-norma agama itu tidak mempunyai korelasi dengan modornisasi maupun tradisionalisme sebab agama mempunyai dimensi yang tidak selalu dapat diukur dengan dimensi modernisasi maupun tradisionalisme.

Sebuah Refleksi

Berdasarkan teori-teori yang telah di paparkan, penulis berasumsi bahwa tedapat relevansi antara hukum adat sebagai media resolusi konflik dengan hukum Islam. Nilai-nilai Islam dan hukum adat mengajarkan manusia untuk hidup rukun, menjunjung tinggi nilai persaudaraan, persatuan dan kesatuan. Konflik dalam skala yang besar atau dalam skala yang kecil diselesaikan melalui rekonsiliasi (islah).

Konflik tidak terpisahkan dari kehidupan manusia yang dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial. Masyarakat adat berpegang kepada hukum adat sebagai alat pemersatu untuk pertentangan konseptual dan sosial. Meski ilmuwan mazhab struktural beranggapan bahwa adat (culture) berperan sebatas pemicu konflik, sebab masyarakat dengan tingkat heterogenitas yang tinggi bisa hidup berdampingan sepanjang diikat oleh manajemen konflik yang baik. Oleh karenanya penyelesaian konflik harus diarahkan pada perbaikan struktur sosial bukan pada adat.

Praktik masyarakat adat dalam menyelesaikan konflik ? mempunyai relevansi dengan nilai-nilai Islam ketika bersentuhan dengan hukum adat, khusunya mengenai penyelesaian konflik. Lebih jauh, gambaran yang kongkrit keterkaitan antara pranata sosial masyarakat dengan agama dipahami dari tulisan Clifford Geertz mengenai kelompok masyarakat abangan, santri dan priyayi. Meski kemudian Mark Woodward mengkritisi Clifford Geertz bahwa ada kesalahpahaman serius dalam melihat Islam Jawa, ? namun perbedaan pandangan tidak menjadi soal dalam tulisan ini, kedua penelitian tersebut jelas menunjukkan bahwa agama dan masyarakat mempunyai kaitan yang erat dalam praktik sosial.?

Peradaban Islam telah menyumbangkan aset berharga bagi pengembangan tradisi ilmiah. Banyak buku ditulis, disadur dan diterjemahkan melalui kreativitas ilmuan Muslim. Namun dalam beberapa abad terakhir Islam secara teriotik sangat komprehensip namun dianggap lemah ketika dihadapkan dengan realitas masyarakat. Hal ini tidak lain disebabkan oleh pemahaman dalam menginterpretasikan wujud Islam. Islam lahir dengan sifatanya yang dinamis dan mengakomodir praktik sosial masyarakat yang mengandung norma dan pranata.





Penulis adalah Finalis Kompetisi Penulisan Esai, International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil) PBNU?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Nusantara, Aswaja, Kyai Ceramah Felix Siauw Lengkap