Jumat, 26 Agustus 2016

Novel Dari Hari Ke Hari Dibahas di Cirebon

Cirebon, Ceramah Felix Siauw Lengkap. Dari Hari Ke Hari, novel aktivis dan wartawan ternama H Mahbub Djunaidi menjadi perbincangan di Umah Kebon, Metland Hotel jalan Siliwangi kota Cirebon, Ahad (6/4) malam. Mereka yang terdiri dari aktivis mahasiswa, wartawan, komunitas seniman yang menduduki kursi di kafe terbuka, menyampaikan pandangan masing-masing.

Dalam pertemuan itu, mereka menyoroti hubungan sastra dan politik yang merujuk pada novel tersebut. Aktivis Jingga Media Sobih Adnan di awal pertemuan mengatakan, karya kesusastraan era reformasi kini jarang sekali terlibat dalam perjalanan kepempinan bangsa.

Novel Dari Hari Ke Hari Dibahas di Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)
Novel Dari Hari Ke Hari Dibahas di Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)

Novel Dari Hari Ke Hari Dibahas di Cirebon

“Penulis kini seperti lebih asyik sendiri menghadapi dunianya,” kata Sobih menyebut penulis belakangan ini yang tengah digandrungi remaja.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Forum santai ini dihadiri aktivis Surah Sastra, Komunitas Seniman Santri (KSS), PMII Cirebon, pelajar NU Cirebon baik IPNU maupun IPPNU , dan mahasiswa umum. Dengan meja terbuat dari kayu mentah, mereka mencicipi suguhan kopi rempah khas kafe setempat.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Sementara aktivis KSS Baequni M Haririe melihat Mahbub sebagai penulis yang tidak lahir dari ruang kosong. Ia lahir di tengah pergolakan fisik revolusi. Keadaan seperti ini yang kemudian menghadirkan novelnya dengan potret perjuangan kendati dari sudut tokoh seorang anak kecil.

Di samping muatannya, Mahbub melalui novel ini juga membuat ungkapan-ungkapan tajam. “Ketika menggambarkan musim panas, Mahbub menggambarkannya dengan ‘daun keriput’,” terang Baequni yang menyayangkan bahwa orang Indonesia tengah kehilangan orientasi kebudayaan.

Sementara sejumlah aktivis PMII Cirebon melihat hubungan sastra dan politik seperti lazimnya air dan minyak. Aktivis politik dan sastrawan seperti bukan saudara sebagaimana masa lalu. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Ahlussunnah, Kajian Sunnah, Hikmah Ceramah Felix Siauw Lengkap

PMII Kota Banjar Ikuti Sekolah Aswaja

Banjar, Ceramah Felix Siauw Lengkap. Puluhan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Banjar mengikuti Sekolah Aswaja yang digelar Komsariat PMII dan Roudlotul Quro Wal Huffadz (RQH) STAIMA Kota Banjar, Sabtu-Ahad, 11-12 November 2017, di Gedung SMA Al Azhar.

PMII Kota Banjar Ikuti Sekolah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Kota Banjar Ikuti Sekolah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Kota Banjar Ikuti Sekolah Aswaja

Ketua Panitia, Alif Fahelani, mengatakan Sekolah Aswaja dilakukan untuk memperkokoh pemahaman para kader PMII terhadap paham Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja). Ia menyadari, kondisi masyarakat saat ini terus diguncang dengan pemahaman-pemahaman yang dapat memecah belah persatuan bangsa.

"Apalagi kita dihadapkan dengan persoalan semakin majunya teknologi dan pesatnya perkembangan dunia maya. Tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi kita selaku mahasiswa untuk bergerak dalam proses penguatan Aswaja di masyarakat, khususnya mahasiswa," katanya.

Hal senada diungkapkan Rizal, Ketua Komisariat PMII STAIMA Banjar. Menurutnya keberadaan Aswaja di Indonesia yang kurang lebih sama dengan Nahdlatul Ulama (NU) perlu menjadi pegangan hidup masyarakat di berbagai bidang, baik dalam hal ibadah, muammalat, munakahat maupun dalam hal menyikapi keberagaman bangsa Indonesia.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

"Hampir semua mengklaim berpaham Aswaja. Namun, bagi kami ada dua hal yang perlu digaris bawahi dalam menghadapi tantangan Aswaja di Indonesia, yakni tantangan menghadapi kekuatan liberal dan kekuatan islam politik garis keras," tegasnya.

Dengan Sekolah Aswaja tersebut, dirinya berharap besar para mahasiswa selaku agen of change mampu menentukan sikap dan mengambil langkah antisipasi gerakan-gerakan yang mengancam keutuhan NKRI.

Sementara itu, Sirojul Mutaha, Ketua PC PMII Kota Banjar, mengungkapkan dirinya miris dengan banyaknya paham transnasional yang semakin berkembang biak di Indonesia. Pasalnya, paham yang tidak cocok dengan kondisi negara Indonesia itu dapat merusak tatanan negara. Baginya, satu-satunya yang cocok adalah Asawaja An-Nahdliyyah dengan konsep Islam Nusantara.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

"Jadi ini bukan aliran baru dalam Islam, akan tetapi sebuah konsep pengamalan nilai-nilai dalam islam yang tidak menafikan budaya-budaya Nusantara," tegasnya.

Sekolah Aswaja diikuti 26 peserta menghadirkan narasumber Yayan Bunyamin dari Lakpesdam NU Tasikmalaya yang juga penulis buku Menalar NU; Rais Syuriah PC NU Kota Banjar KH. Muin Abdurrohim; Roisun alumnus PMII Malang; Basiturrizal dari RMI NU Banjar; Gun Gun Gunawan Abdul Jawad dari Mabincab PMII yang juga anggota DPRD Kota Banjar. Pembukaan dilakukan langsung oleh Mustasyar PC NU Banjar, KH. Munawwir Abdurrohim. (Muhafid/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Ulama, AlaNu, Makam Ceramah Felix Siauw Lengkap

Yang Tercatat dari Muktamar

Oleh Muhammad Al-Fayyadl

Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Jombang, Jawa Timur, baru saja usai 5 Agustus silam.? Setidaknya ada dua fenomena menarik yang muncul dari? muktamar itu: masih besarnya kesulitan yang dihadapi NU dalam mengonsolidasi kekuatan internal organisasi serta fenomena kebangkitan “NU kultural” dalam mengawal agenda-agenda besar kebangsaan.

Yang Tercatat dari Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)
Yang Tercatat dari Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)

Yang Tercatat dari Muktamar

Seperti mengulang drama Muktamar ke-27 NU di Situbondo pada 1984, Muktamar ke-33 juga berada dalam bayang-bayang perpecahan akibat perbedaan pandangan mengenai penerapan sistem Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) dalam pemilihan Rais Aam, jabatan tertinggi dalam kepemimpinan struktural NU. Dalam sistem AHWA, Rais Aam tidak dipilih secara langsung oleh peserta muktamar, melainkan oleh sebuah komite terbatas dari kalangan ulama sepuh yang memiliki integritas moral dan konsisten dalam berkhidmat di NU. Sistem pemilihan sepert itu dipandang mampu menyelamatkan NU dari riswah, oportunisme, dan muslihat pihak-pihak yang berkepentingan, serta menjaga NU tetap dikendalikan para ulama. Sementara itu, bagi para penolaknya, sistem AHWA dianggap tidak benar-benar tulus mengangkat marwah ulama, melainkan untuk agenda politik tertentu menghadang calon Rais Aam lain yang mendapat dukungan selama muktamar. Namun, pendukung ataupun penolak AHWA menuding satu-sama lain disetir oleh agenda politik jangka pendek, baik tingkat regional maupun nasional.

Tidak jelas siapa yang menunggangi dan siapa yang ditunggangi. Relasi kuasa yang terbangun antara umara(baca: politisi) dan ulama telah menjadi sangat rumit, kompleks, dan berlapis-lapis, sehingga tidak mudah dicandra oleh mata publik. Dalam suasana liberalisasi politik yang juga sedang menghantam NU sebagai organisasi Islam dengan massa terbesar di Indonesia, para politisi ikut berkepentingan dengan “kapal besar” NU untuk mengamankan atau memajukan kepentingan masing-masing. Perhelatan akbar, seperti muktamar itu, tak luput menjadi ajang “investasi politik” para sponsor yang memanfaatkan sentimen keulamaan untuk mengamankan posisi politik mereka.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Tentunya tidak tepat menyebut politisi sebagai aktor tunggal dalam Muktamar NU kali ini. Walaupun para ulama dapat digiring ke arah kondisi tertentu yang favorable bagi kepentingan jangka pendek, selalu ada hal yang tak terduga dari figur-figur panutan warga nahdliyin tersebut. Muktamar kali ini, lagi-lagi, mempertontonkan hal itu. Drama tetesan air mata Gus Mus membuka mata nahdliyin betapa muktamar tersebut tak melulu soal ajang berebut pucuk kuasa. Muktamar adalah soal moralitas dan integritas keulamaan.

Walaupun terlambat, dan belum tentu mampu menyelamatkan organisasi, jalan sunyi Gus Mus menyingkap sebuah permasalahan yang masih melilit ormas Islam terbesar itu, yakni sulit mengambil sikap independen lebih tegas terhadap kultur pragmatis dengan mengalihkan kekuatan modal kulturalnya untuk hajat umat yang lebih pokok dan substansial.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Dalam perjalanan sejarahnya, NU selalu bermain pada aras suprastruktural dengan mendayagunakan kekuatan-kekuatan yang dimiliki untuk mengintervensi grand design kebangsaan yang dipandang lebih cocok dalam melindungi kemaslahatan umat secara ekonomis, politis, ideologis, kultural, dan keagamaan. Hal tersebut, misalnya, tercermin dari penerimaan NU terhadap Pancasila pada Muktamar 1984. Modal kultural bagi kekuatan ini adalah hubungan organik antara ulama dan umat, serta kepercayaan pada peran ulama dalam membawakan aspirasi-aspirasi keumatan. Pada kenyataannya, secara eksternal, para ulama dapat berfungsi cukup kuat sebagai kekuatan pengimbang terhadap pelbagai kekuatan yang selama ini menentukan hajat hidup orang banyak—negara, partai politik, modal asing, dan lain-lain. Itu tercermin dari peran ulama NU pada masa Orde Baru dan peran NU di zaman kolonial dalam upaya melindungi umat dari persaingan dengan para pemodal Belanda dan China. Kendati secara eksternal cukup disegani, secara internal para ulama tidak selamanya mampu menjadi faktor integratif bagi kepentingan organisasi, terlebih bagi pemenuhan hajat pokok umat. Sering terjadi perbedaan pendapat cukup tajam dan sering kali pula tidak terdamaikan akibat hadirnya beragam orientasi politik dan ekonomi.

Persoalan barangkali sudah semestinya tuntas sejak NU kembali ke Khittah pada 1984 dengan menarik diri dari politik kepartaian dan menegaskan diri sebagai organisasi sosial-keagamaan. Namun, secara “kultural”, NU belum benar-benar ber-Khittah, karena masih memanfaatkan modal kultural keulamaan untuk mendayagunakan kekuatan-kekuatan politik yang ada guna mencapai tujuan-tujuan organisasi. NU tetap berpolitik “dari pintu belakang” dengan melakukan hegemoni atas sumber daya politik yang ada, baik formal maupun informal serta di pemerintahan maupun nonpemerintahan, untuk mewujudkan apa yang menjadi idealisme dan cita-cita besarnya. ?

Di ruang abu-abu itu, pertarungan dan adu-kekuatan antara haybah (wibawa) keulamaan dan kepentingan instrumental-pragmatis sumber daya politik tersebut diuji. Jika para ulama dapat mendikte kepentingan instrumental-pragmatis, maka besar kemungkinan para ulama dapat menjadikan aktor-aktor pragmatis itu kendaraan untuk mewujudkan agenda-agenda besar keumatan. Sebaliknya, jika para aktor pragmatis berhasil mendikte para ulama, maka agenda-agenda keumatan akan tergadaikan dan menjadi bancakan para aktor pragmatis; NU akan terjerat dalam pusaran kepentingan jangka pendek.

Permainan tersebut terbukti sarat risiko. Para ulama bisa saja terbuai bujuk-rayu para aktor pragmatis yang memiliki seribu satu cara untuk meluluhkan hati mereka agar menerima proposal-proposal yang sama sekali tidak bersangkut-paut dengan kepentingan umat, bahkan justru merugikan umat. Dalam suasana neoliberalisasi seperti saat ini, para ulama dapat dengan mudah terkooptasi skema-skema yang didesain oleh para pemodal besar (dan bukan sekadar aktor pragmatis “biasa”), yang bermain dari balik layar dengan memanfaatkan ulama sebagai “bumper” bagi kepentingan bisnis mereka. Para pemodal tersebut dapat bekerja sama dengan politisi yang memiliki kedekatan atau hubungan? kekerabatan dengan para ulama. Dengan kata lain, para aktor pragmatis dapat dengan mudah memuluskan sekaligus menjalankan agenda yang dimiliki berkat dukungan kultural yang diperolehnya.

Pelajaran terpenting dari Muktamar kali ini barangkali adalah perlunya dirumuskan sebuah konsepsi “khittah” yang lebih aktual dengan konteks kekinian, yaitu konteks dunia neoliberal tempat kepentingan politik niscaya bersenyawa dengan kepentingan ekonomi. Konsekuensinya, berpolitik hari ini menjadi identik dengan memiliki dan menguasai sumber daya ekonomi. “Khittah 1984” mampu melepaskan NU dari jeratan politik formal kepartaian dan memungkinkan NU memiliki ruang bebas memerankan sepak terjang tanpa baju partai politik, sedangkankhittah di masa kini juga seharusnya mampu melepaskan NU dari jeratan “politik” dagang yang diakui maupun tidaktelah memfasilitasi proses politik dalam bentuk formal serta? informal.

Perlu dibuka diskursus di kalangan ulama mengenai dampak bila ulama merestui atau menyetujui, misalnya, seorang calon anggota parlemen maju sebagai kepala daerah. Konsesi-konsesi apa yang akan diberikan si calon kepada para pengusaha besar dan kebijakan-kebijakan apa yang potensial dilahirkan si calon terhadap perubahan tata ruang, alih fungsi sumber daya, alokasi anggaran publik, dan lain-lain. Perlu dibuka wacana di tengah-tengah ulama mengenai sumber-sumber dana yang diperoleh para politisi, pertanggungjawaban dana tersebut, serta sanksi moral yang keras terhadap perilaku korupsi. Dengan demikian, “politik kebangsaan” NU mendapatkan wujud konkret dalam bentuk pengawasan publik terhadap segala aspek yang perlahan tapi pasti membawa dampak merugikan (mafsadah) bagi umat dan bangsa secara keseluruhan.

Merasuknya politik pragmatis di jaringan struktural NU merupakan akibat dari “politik akomodasi” yang dijalankan NU terhadap aktor-aktor negara dan pasar. NU pernah menjalani orientasi politik seperti itu sejak 1957 sampai 1961 dengan mengakomodasi? “Demokrasi Terpimpin”, yang kemudian melahirkan lapisan elite NU yang memiliki akses dan kedekatan dengan pengusaha, militer, serta pejabat tinggi negara. Meski kedekatan dengan rezim itu menguntungkan NU dengan kemampuannya mempertahankan dukungan kuat massa, di tengah konstelasi ideologi-ideologi besar saat itu (Nasakom), secara internal kedekatan itu juga menyeruakkan dan mempertajam friksi di kalangan NU, dari progresif hingga konservatif, yang menghendaki lebih kuatnya independensi NU terhadap rezim dan persatuan internal yang lebih kondusif bagi perwujudan cita-cita luhur organisasi (Greg Fealy, Ijtihad Politik Ulama, LKiS, 2003, hal. 307).

Perlunya evaluasi serta otokritik terhadap strategi politik suprastruktural yang diperankan NU saat ini, dengan akomodasi lunaknya terhadap rezim serta akomodasi organisasi massa Islam ini atas pelbagai fasilitas yang dimungkinkan oleh iklim politik yang mengalami liberalisasi sedemikian cair, barangkali mendorong perlunya memikirkan sebuah kemungkinan pendekatan politik yang lebih dekat dengan cita-cita pemberdayaan NU untuk warga nahdliyin; pendekatan politik partisipatif-kewargaan,lintas-golongan, berjejaring, dan memiliki akar keprihatinan pada kondisi riil di tingkat basis. Pendekatan politik tersebut? berorientasi pembebasan dan pemberdayaan warga nahdliyin di tingkat akar rumput yang sekian puluh tahun nyaris tidak mengalami perubahan hidup yang berarti dan cenderung semakin rentan terjatuh pada pemelaratan, pemiskinan, dan deprivasi sosio-ekonomi.

Fenomena menarik lain di sekitar arena Muktamar NU kemarin adalah banyaknya “muktamar” sampingan (side-events) yang melibatkan kaum muda NU dari berbagai latar belakang. Mereka mendiskusikan persoalan-persoalan bangsa tidak lagi dari perspektif perebutan kuasa, melainkan dari perspektif pemberdayaan—melalui isu-isu perburuhan, sumber daya alam dan agraria, bonus demografi, anti-korupsi, demokrasi versus neoliberalisme, HAM, resolusi konflik, new media, seni tradisi, dan masyarakat adat. Berbagai pemetaan yang dilakukan atas persoalan riil keumatan, yang jauh dari jargon-jargon besar, seperti menandai suatu gelombang kesadaran baru di kalangan generasi muda nahdliyin akan perlunya sebuah pendekatan politik baru yang belum tertampung dalam strategi “tradisional” politik suprastruktural yang diperankan tokoh-tokoh NU. Bagaimana kaum muda NU mampu mengambil peran lebih hegemonik terhadap isu-isu kebangsaan di tubuh NU, dan mendorong lahirnya perubahan yang signifikan terhadap orientasi politik NU, merupakan sebuah pertanyaan yang menarik untuk dilihat jawabannya pada tahun-tahun mendatang.***



Muhammad Al-Fayyadl, Peninjau pada Muktamar NU ke-33, Peserta Musyawarah Besar (Mubes) Kaum Muda NU Jombang. Ia Alumnus Master "Philosophie et critiques contemporaines de la culture", Université Paris VIII, Prancis.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap PonPes Ceramah Felix Siauw Lengkap

Ratusan Santri di Probolinggo Baca Surat Yasin, Tahlil dan Sholawat Nariyah

Probolinggo, Ceramah Felix Siauw Lengkap - Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) ke-III tahun 2017, ratusan santri di Kabupaten Probolinggo melaksanakan pembacaan Surat Yasin, Tahlil dan Shalawat Nariyah bersama-sama di halaman depan Eks Kantor Bupati Probolinggo di Kecamatan Dringu, Sabtu (21/10) malam.

Peringatan HSN ke-III tahun 2017 ini digelar oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo bekerja sama dengan PCNU Kota Kraksaan dan PCNU Kabupaten Probolinggo. Selain santri, kegiatan ini juga diikuti oleh segenap warga NU mulai dari Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, IPNU dan IPPNU serta badan otonom NU yang lain.

Ratusan Santri di Probolinggo Baca Surat Yasin, Tahlil dan Sholawat Nariyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Santri di Probolinggo Baca Surat Yasin, Tahlil dan Sholawat Nariyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Santri di Probolinggo Baca Surat Yasin, Tahlil dan Sholawat Nariyah

Kegiatan ini dihadiri oleh Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin didampingi Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo Soeparwiyono, Rais PCNU Kota Kraksaan KH Munir Kholili,  Ketua PCNU Kota Kraksaan KH Nasrullah Ahmad Suja’i, Rais PCNU Kabupaten Probolinggo KH Jamaludin Al-Hariri dan Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi Saifullah.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

H Hasan Aminuddin meminta para orang tua untuk mencetak anaknya selaku generasi muda dengan memberikan pendidikan yang baik dan berakhlakul karimah. “Para orang tua hendaklah harus bisa memaksa anak dan memberikan batasan waktu untuk memegang HP. Berikan kesempatan memegang HP di hari yang tepat,” katanya.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Lebih lanjut Hasan mengajak seluruh warga NU agar bersama-sama menyelamatkan generasi muda penerus bangsa supaya menjadi anak yang berguna dan menjadi generasi pemimpin yang baik kedepannnya.

“Kemajuan di zaman era digital ini sudah semakin menurunkan perilaku dan akhlak anak-anak kita. Solusinya adalah anak tidak boleh membawa HP saat bersekolah. Dengan demikian anak bisa berkonsentrasi kepada apa yang diajarkan oleh gurunya,” jelasnya.

Oleh karena itu Hasan meminta kepada para orang tua agar selalu memberikan kesibukan kepada anak-anaknya agar menjadi generasi penerus bangsa Indonesia yang berkualitas dan profesional.

“Setiap harinya orang tua harus mengarahkan dan memberikan pengetahuan umum baik di lembaga pendidikan atau sekolah serta pengetahuan agama atau mengaji di musholla atau di masjid,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Sejarah Ceramah Felix Siauw Lengkap

Kamis, 25 Agustus 2016

RMI NU Libatkan Santri di Jawa Barat Cegah Dini Terorisme

Cirebon, Ceramah Felix Siauw Lengkap. Pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama melibatkan sedikitnya 50 santri dari pelbagai pesantren di Jawa Barat untuk bersama mencegah penyebaran terorisme. Mereka selama tiga hari Senin-Rabu (29/9-1/10) di pesantren Kempek Cirebon mempelajari terorisme, sebab, penyebaran pahamnya via online, hingga pencegahannya.

RMI NU Libatkan Santri di Jawa Barat Cegah Dini Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
RMI NU Libatkan Santri di Jawa Barat Cegah Dini Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

RMI NU Libatkan Santri di Jawa Barat Cegah Dini Terorisme

Pengasuh pesantren Kempek KH Mustofa Aqil Siroj mengatakan, pembahasan terorisme di pesantren bukan upaya penyadaran akan bahaya terorisme bagi kalangan santri. Penolakan pesantren dan santri tidak perlu diragukan terhadap paham teror.

“Kehadiran kita di pesantren ini mesti dipahami bahwa santri dan pesantren diajak untuk menanggulangi penyebaran paham teror yang kini dilakukan pihak tidak bertanggung jawab melalui pelbagai cara dan media,” kata Kiai Mustofa yang kini diamanahkan sebagai Katib Syuriyah PBNU, Selasa (30/9).

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Saefudin dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme mendukung pernyataan Kiai Mustofa. Menurutnya, kalangan santri penting terlibat dalam penyebaran paham terorisme.

“Di Jabar ini keamanan dari teroris raportnya merah, terbukti dengan pemboman di Mapolresta Cirebon. Kita bekerja keras bersama RMI untuk mengajak santri memutuskan penyebaran paham ini. Terorisme harus dicegah dengan cara bukan kekerasan,” kata Saefudin.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Pada satu sesi di pelatihan ini Sekretaris RMI NU KH Miftah Faqih memandu peserta untuk siap terjun di masyarakat. Ia membagi peserta ke dalam lima kelompok. Mereka diajak secara kritis menganalisa dan memahami perintah pembunuhan terhadap non muslim yang ada pada potongan Al-Quran dan hadits Rasulullah.

Menurut Kiai Miftah, analisa terhadap potongan Al-Quran dan hadits ini akan melatih peserta menghadapi mereka secara teologis. Ia mengajak peserta melihat potongan ayat dan hadits itu dilihat dari aspek asbabun nuzul, korelasinya dengan lain ayat, dan pesan moralnya.

“Ingat teks yang terlepas dari konteksnya akan melahirkan tasyisun nushusil muqaddasah (politisasi ayat dan hadits oleh kelompok tertentu demi kepentingannya),” kata Kiai Miftah.

Pelatihan ini terselenggara atas kerja sama RMI NU, BNPT, dan Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (Pakar). (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Kajian, Jadwal Kajian, Pahlawan Ceramah Felix Siauw Lengkap

Kamis, 18 Agustus 2016

Peringati Hari Antikorupsi, Warga Lomba Memanah Koruptor

Brebes, Ceramah Felix Siauw Lengkap. Dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia, warga di Kota Brebes merayakannya dengan cara unik. Mereka menggelar lomba ketangkasan memanah gambar koruptor di Alun-alun Kota Brebes sebagai bentuk dukungan terhadap pemberantasan korupsi, Rabu (9/12).

Aksi di gelar oleh Forum Swadaya Warga Brebes (FSWB). Seluruh elemen masyarakat terlibat dalam aksi itu, mulai dari wartawan, tukang becak, sopir angkutan, hingga pelajar. Bak Arjuna membidik sasarannya, para peserta beraksi memanah gambar koruptor kelas wahid di Indonesia. Di antaranya, Urip Tri Gunawan, Artalyta, Syamsul Nursalim dan gambar koruptor Brebes dengan wajah hitam.

Peringati Hari Antikorupsi, Warga Lomba Memanah Koruptor (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Hari Antikorupsi, Warga Lomba Memanah Koruptor (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Hari Antikorupsi, Warga Lomba Memanah Koruptor

Panitia Lomba, Duryani mengatakan, kegiatan dilaksanakan sebagai bentuk dukungan terhadap aparat penegak hukum dalam memberantas korupsi di indonesia.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Di Brebes sendiri kasus karupsi banyak yang belum tertutaskan. Di antaranya, dugaan mark up pengadaan tanah Rp 11 miliar dan pengadaan bukup paket Rp 20 miliar. "Kami ingin Brebes, bersih dari korupsi," tandasnya.

Sementara itu di tempat terpisah puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Brebes mengajak masyarakat memberantas korupsi. Ajakan tersebut dalam bentuk unjuk rasa.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Ajakan tersebut terkait masih mandulnya hukum di Indonesia. Kabinet Indonesia Bersatu jilid II pemerintahan SBY yang belum genap berusia 100 hari ternyata dipenuhi berbagai persoalan.  ”Hukum seperti halnya barang dagangan yang diperjualbelikan,”  ujar Ketua PMII Kabupaten Brebes, Afifudin Jumfri di sela-sela demo.

Aksi damai yang diikuti sekitar  puluhan orang itu digelar di dua tempat berbeda. Yakni, di depan Pendapa Kabupaten Brebes dan depan Gedung Islamic Center Brebes, tempat dilaksanakannya sidang paripurna DPRD.

Di depan Pendapa Kabupaten, mereka mengelar orasi sambil membawa keranda dan puluhan poster bertuliskan tuntutan. Usai dari pendapa, pendemo bergerak menuju Gedung Islamic Center Brebes dengan berjalan kaki menyusuri jalur pantura. Aksi mahasiswa itu mendapat pengawalan ketat dari Polres Brebes. Sedikinya satu truk Dalmas diterjunkan untuk mengamankan aksi mahasiswa tersebut.

PMII mengajak masyarakat untuk bersama-sama: pertama, mengusut tuntas kasus perampokan uang negara atau skandal bank century yang telah menyakiti hati rakyat. Kedua, tangkap dan adili para pejabat dan orang-orang yang terlibat dalam skandal Bank Century.

Ketiga, seret dan musnahkan para Mafia Hukum dan Makelar Kasus yang telah mengotori hukum dan keadilan di Indonesia. Keempat, mengajak seluruh masyarakat brebes untuk bangkit dan terus melakukan perlawanan-perlawanan terhadap perilaku korupsi di setiap lini kehidupan.  "Kami mengajak masyarakat Brebes untuk bangkit melawan korupsi," tandasnya. (was)Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Pondok Pesantren, Kyai,Attijani Ceramah Felix Siauw Lengkap

PBNU Jalin Kerjasama dengan Rabobank Foundation

Jakarta, Ceramah Felix Siauw Lengkap. Dalam rangka meningkatkan sektor ekonomi mikro yang selama ini kurang tersentuh oleh perbankan, PBNU menjalin kerjasama dengan Rabobank Foundation.

MoU kerjasama tersebut sebelumnya sudah ditandatangani oleh Executive Director Rabobank Foundation Mart Jan Krouwel di Belanda dan kemudian baru ditandatangani Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi dengan disaksikan perwakilan Rabobank Foundation Frank Bakx pada hari Rabu, 18 Juli di Gd. PBNU.

PBNU Jalin Kerjasama dengan Rabobank Foundation (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Jalin Kerjasama dengan Rabobank Foundation (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Jalin Kerjasama dengan Rabobank Foundation

Rabobank Foundation merupakan sebuah yayasan yang independen di dalam kalangan Rabobank Group yang sudah ada di 25 negera dengan pendekatan memperkuat lembaga koperatif dan organisasi berbasis anggota. Beberapa program yang telah dijalankan di Indonesia adalah pinjaman kepada Koperasi Simpan Pinjam (KSP) di Jatim, Lombok, Toraja, Nias dan Jateng sebagai penasehat sampai dengan memperkenalkan Electronic Data Capture (EDC) untuk transaksi tunai kecil.

Dalam kerjasama ini, terdapat tiga aspek yang akan digarap bersama untuk jangka waktu dua tahun yang meliputi institusional building bagi BPR, membuat pilot proyek Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan membuka akses terhadap informasi pasar.

Ketua PBNU Ir. Mustofa Zuhad Mughni yang juga direktur utama PT Nusumma Utama menjelaskan bahwa program ini selanjutnya akan diserahkan penyelenggaraannya oleh PBNU kepada PT Nusumma Utama yang kini mengelola 12 BPR Nusumma.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Dalam upaya pengembangan institusional building, Rabobank Foundation yang telah berpengalaman dalam pengembangan koperasi di Belanda akan berbagi pengetahuan, teknologi, pendidikan dan fasilitas training untuk meningkatkan kualitas bisnis BPR.

Cak Mus, panggilan akrab Mustofa Zuhad juga menjelaskan bahwa untuk itu, akan dibentuk sebuah kelompok kerja diantara kedua belah fihak ini untuk menangani institusional building.

Berkaitan dengan pembuatan pilot project KSP, akan didesain, didirikan dan dikelola berdasarkan prinsip koperasi dengan kualitas yang baik yang nantinya diharapkan dapat dijadikan model untuk replikasi. Dalam hal ini, dimungkinkan adanya fihak ketiga yang ditunjuk untuk mengimplementasikannya.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Untuk akses terhadap informasi pasar, Cak Mus menjelaskan ini merupakan upaya untuk mengembangkan UKM, baik yang merupakan klien dari BPR maupun para anggota KSP agar usaha ini semakin berkembang.

Selain penandatanganan MoU ini, juga diselenggarakan Lokakarya Nusumma-Rabobank Foundation dengan tema Meningkatakn Kesejahtaraan Warga NU Lewat LEmbaga Kegiatan Keuangan Mikro dan Koperasi yang diikuti oleh para direktur BPR Nusumma dan para pimpinan koperasi baik KSP atau KSU dari berbagai daerah yang diselenggarakan pada 18-21 Juli. Mereka juga akan mengadakan studi banding ke Koperasi Ponpes At Ittihad di Ciwidey Bandung yang telah berhasil menjadi pemasok sayuran untuk Hero Group. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Hadits, AlaNu Ceramah Felix Siauw Lengkap

Kamis, 11 Agustus 2016

Majalah Bangkit "Diserbu" dalam Integrity EXPO KPK

Yogyakarta,Ceramah Felix Siauw Lengkap. Majalah Bangkit sebagai wahana jurnalistik Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menarik perhatian pengunjung Integrity EXPO KPK yang digelar di Universitas Gajah Mada (UGM), Kamis (11/12). Para pengunjung penasaran dengan cover majalah Bangkit yang bertemakan "Koruptor Mati tak Perlu Disholati". Cover majalah yang dibuat menjadi standing banner ini bahkan menjadi tempat para pengunjung untuk foto selfie.

Awan PWNU DIY Demikian Fathorrahman yang juga ikut serta menjaga stand PWNU DIY, dalam acara penutupan EXO KPK di UGM mengatakan tema Koruptor Mati Tak Perlu Disholati memang sudah menjadi keputusan Munas Alim Ulama NU 2002 di Jakarta, tema ini juga menarik untuk didiskusikan.

Majalah Bangkit Diserbu dalam Integrity EXPO KPK (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah Bangkit Diserbu dalam Integrity EXPO KPK (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah Bangkit "Diserbu" dalam Integrity EXPO KPK

.

"Keberanian Majalah Bangkit mengangkat tema ini sangat tepat. Momentumnya sangat strategis. Banyak sekali yang tertarik dengan isi majalah ini," tegas Fathorrahman yang juga Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Fathorrahman juga menegaskan bahwa Majalah Bangkit menjadi salah satu hadiah yang diberikan kepada pengunjung kuis acara Mata Najwa. Peserta Mata Najwa sangat antusias, apalagi melihat cover dan tema Bangkit yang mengesankan.

Ceramah Felix Siauw Lengkap

Sementara Joko Wahyono, Redaktur Majalah Bangkit, yang ikut menjaga stand menjelaskan bahwa Bangkit menjadi majalah Islam satu-satunya yang bersuara tentang korupsi dalam arena EXPO KPK.

"Suara dari Bangkit menjadikan keputusan Munas Alim Ulama NU 2002 di Jakarta menjadi arena perdebatan menarik dari para pengunjung, khususnya kaum mahasiswa," tegasnya. (Madun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ceramah Felix Siauw Lengkap Kajian Islam, Amalan Ceramah Felix Siauw Lengkap