Dalam pertemuan itu, mereka menyoroti hubungan sastra dan politik yang merujuk pada novel tersebut. Aktivis Jingga Media Sobih Adnan di awal pertemuan mengatakan, karya kesusastraan era reformasi kini jarang sekali terlibat dalam perjalanan kepempinan bangsa.
| Novel Dari Hari Ke Hari Dibahas di Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online) |
Novel Dari Hari Ke Hari Dibahas di Cirebon
“Penulis kini seperti lebih asyik sendiri menghadapi dunianya,” kata Sobih menyebut penulis belakangan ini yang tengah digandrungi remaja.Ceramah Felix Siauw Lengkap
Forum santai ini dihadiri aktivis Surah Sastra, Komunitas Seniman Santri (KSS), PMII Cirebon, pelajar NU Cirebon baik IPNU maupun IPPNU , dan mahasiswa umum. Dengan meja terbuat dari kayu mentah, mereka mencicipi suguhan kopi rempah khas kafe setempat.Ceramah Felix Siauw Lengkap
Sementara aktivis KSS Baequni M Haririe melihat Mahbub sebagai penulis yang tidak lahir dari ruang kosong. Ia lahir di tengah pergolakan fisik revolusi. Keadaan seperti ini yang kemudian menghadirkan novelnya dengan potret perjuangan kendati dari sudut tokoh seorang anak kecil.Di samping muatannya, Mahbub melalui novel ini juga membuat ungkapan-ungkapan tajam. “Ketika menggambarkan musim panas, Mahbub menggambarkannya dengan ‘daun keriput’,” terang Baequni yang menyayangkan bahwa orang Indonesia tengah kehilangan orientasi kebudayaan.
Sementara sejumlah aktivis PMII Cirebon melihat hubungan sastra dan politik seperti lazimnya air dan minyak. Aktivis politik dan sastrawan seperti bukan saudara sebagaimana masa lalu. (Alhafiz K)
Dari Nu Online: nu.or.id
Ceramah Felix Siauw Lengkap Ahlussunnah, Kajian Sunnah, Hikmah Ceramah Felix Siauw Lengkap
Tidak ada komentar:
Posting Komentar